Penertiban Pedagang oleh Satpol PP di Waikabubak, Sumba Barat Tuai Kritik Tajam Warganet
- account_circle Hans Wea
- calendar_month Kamis, 2 Apr 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Dok. Ilustrasi (Hans Wea/Lintas Sumba)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Lintas Sumba – Tindakan penertiban yang dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) terhadap pedagang di bahu jalan Pasar Lama Waikabubak, Kelurahan Wailiang, Kota Waikabubak, pada Rabu (1/4/2026), menuai kritik tajam dari warganet di media sosial.
Sorotan publik muncul setelah akun Facebook @jemy lalo mengunggah potongan video yang memperlihatkan petugas Satpol PP saat mengamankan para pedagang. Video tersebut dengan cepat mendadak viral dan memicu beragam tanggapan dari masyarakat.
Sejumlah warganet menilai tindakan oknum petugas tidak mengedepankan aspek kemanusiaan, khususnya terkait perlakuan terhadap barang dagangan milik pedagang. Mereka juga menduga proses penertiban tidak memperhatikan keamanan barang yang dijual.
Akun Facebook @Ahmad Santana memberi komentar pedas, ia menuliskan bahwa boleh memakai aturan tetapi jangan arogan. Menurutnya para pedagang berjualan untuk menyekolahkan anak dan memakai membeli beras.
“Boleh pake aturan tapi jangan arogan juga lah, kasian masyarakat itu di hambur-hambur jualannya, mereka jualan itu untuk biaya sekolah anak, buat beli beras, biaya adat dll. Kalau dibuang-buang begitukan kasian mereka, satu-satu nya pendapat mereka ya itu jualan, kalau di buang-buang bgituu mereka dapat uang dari mana coba.” tulisnya
“Yang pakai seragam punya temprament mental yang tidak bagus. Kau jalankan tugas boleh. Tapi caranya bukan begitu.” komentar akun @Ghalu Dewa
Sementara itu, akun @Yadi Dukapare mempertanyakan tindakan petugas. Menurutnya POL PP di bayar dari uang rakyat.
“Gaji mereka itu di bayar dari uang rakyat, terlalu kenapa harus buang itu dagang mereka.”
Akun lainnya, @Umbu Rey, menyoroti kesenjangan antara petugas dan pedagang. Menurutnya para petugas yang punya titel karena sistem yang bertindak sementara yang tidak punya berjuang mati-matian.
“Enak mereka yang punya titel sistem bertindak dengan gaji bulanan, mah yang tidak punya titel berjuang mati matian. Sungguh miris penindasannya.”
Kritik juga datang dari akun @Yumi Niha yang menilai penanganan barang dagangan tidak semestinya dilakukan dengan cara yang kasar.
“Boleh atur masyarakat tapi jangan angkat buang juga pada kalian juga makan apa yang mereka jual. Coba angkat dengan baik muat di oto bawa di pasar baru baik. Ini kalian injak dan buang kasian mereka pak. Mereka juga Pinjm uang koperasi dan lainnya untuk nyambung hidup.”
Di tengah gelombang kritik, terdapat pula pandangan yang lebih netral. Akun @Umbu Losa menilai situasi tersebut sebagai persoalan bersama
“Semua di lemah. Pol PP jlnkan tugas karna tekanan pimpinan. Masyarakat jualan karena kebutuhan. Tolong kasih kami jala keluar yang baik agar semuanya baik-baik.”
Hingga saat ini, peristiwa tersebut masih menjadi perbincangan hangat di media sosial. Warganet berharap adanya solusi yang lebih humanis dalam penegakan aturan, sehingga kepentingan penataan kota tetap berjalan tanpa mengabaikan kondisi ekonomi masyarakat kecil.***
- Penulis: Hans Wea
- Editor: Hans Wea








Saat ini belum ada komentar