FKM UNDANA Kupang Dorong Peran Posyandu Atasi Gizi Balita di Wilayah Kering NTT
- account_circle Johan Sogara
- calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

Praktik Pengolahan Pangan Lokal implementasi B2SA Pemenuhan Gizi Anak Balita oleh Dosen Prodi Gizi FKM UNDANA Kupang, Anna Henny Talahatu, S.Pi., M.Si, kepada kader posyandu (Johan Sogara/Lintas Sumba)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
LINTAS SUMBA – Program Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Nusa Cendana (UNDANA) Kupang menyoroti pentingnya pemenuhan gizi balita melalui peran aktif kader posyandu.
Kegiatan ini mengangkat tema B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman) untuk mendukung ketahanan gizi anak di wilayah lahan kering dan kepulauan.
Kegiatan berlangsung di Posyandu Cempaka I, Desa Kaniti, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Selasa, 30 September 2025.
Program ini melibatkan dosen dan mahasiswa tingkat akhir dari FKM UNDANA.
Tim kegiatan terdiri dari dua dosen, Anna Henny Talahatu, S.Pi., M.Si dan Marselinus Laga Nur, S.KM., M.Kes, serta delapan mahasiswa. Mereka juga menggandeng tujuh kader posyandu dan 35 ibu balita.

Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Berbasis Pangan Lokal kepada anak-anak (Johan Sogara/Lintas Sumba)
Program ini menjadi bagian dari tridharma perguruan tinggi, khususnya pengabdian masyarakat.
Masalah gizi balita masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Riskesdas 2018 mencatat 3,9 persen balita mengalami gizi buruk dan 13,8 persen gizi kurang. Angka di NTT bahkan melampaui nasional, yakni 7,3 persen balita mengalami gizi buruk dan 22,2 persen gizi kurang.
Di Kabupaten Kupang, data menunjukkan 2.388 balita berstatus gizi kurang dan 275 mengalami gizi buruk. Sebanyak 9,5 persen juga mengalami wasting. Kondisi ini diperparah dengan kerentanan pangan di 80 kecamatan yang masuk prioritas 1–3 menurut analisis ketahanan pangan 2022.
Anak-anak stunting di NTT sebagian besar hanya mengonsumsi bubur atau nasi dalam porsi kurang. Hanya 58,6 persen yang rutin mengonsumsi lauk hewani, dengan 10,4 persen dalam porsi tidak mencukupi. Pola makan ini berbanding lurus dengan peningkatan risiko stunting pada usia 6–24 bulan.
- Penulis: Johan Sogara

Saat ini belum ada komentar