FKM UNDANA Kupang Dorong Peran Posyandu Atasi Gizi Balita di Wilayah Kering NTT
- account_circle Johan Sogara
- calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

Praktik Pengolahan Pangan Lokal implementasi B2SA Pemenuhan Gizi Anak Balita oleh Dosen Prodi Gizi FKM UNDANA Kupang, Anna Henny Talahatu, S.Pi., M.Si, kepada kader posyandu (Johan Sogara/Lintas Sumba)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Revitalisasi posyandu menjadi salah satu strategi pemerintah mengatasi krisis gizi dan kesehatan ibu-anak. Program ini diarahkan untuk memperkuat peran kader, fungsi posyandu, dan pengembangan MP-ASI lokal berbasis pangan setempat. Namun, persepsi masyarakat terhadap pelayanan posyandu masih rendah, sehingga partisipasi belum optimal.
Dalam kegiatan pengabdian ini, para kader mendapatkan pelatihan pembuatan PMT (Pemberian Makanan Tambahan) dengan bahan lokal bergizi. Pelatihan difokuskan pada teknik pengolahan pangan sesuai prinsip B2SA agar mudah diterapkan masyarakat.
Selain praktik, peserta menerima sosialisasi tentang frekuensi, jenis, jumlah, dan waktu pemberian MP-ASI. Materi tambahan juga mencakup keamanan jajanan anak serta prinsip gizi seimbang. Pendekatan ini bertujuan memperkuat peran kader sebagai agen edukasi gizi di lingkungan posyandu.
Pelatihan dimulai dengan pretest untuk mengukur pengetahuan, sikap, dan keterampilan peserta. Kader dan ibu balita mengisi kuesioner mandiri sebelum mengikuti ceramah dan praktik. Metode partisipatif dipilih agar peserta dapat langsung menerapkan materi pelatihan dalam kegiatan posyandu rutin.
Menurut Anna Henny Talahatu, penguatan kapasitas kader sangat penting untuk menekan angka gizi buruk.

PKM PMBA Kader Posyandu dan Ibu Baduta Posyandu Cempaka I Kaniti, Kabupaten Kupang (Johan Sogara/Lintas Sumba)
“Kader adalah ujung tombak perubahan perilaku gizi di masyarakat,” ujar Anna dalam pernyataan resminya yang diterima Lintassumba.com, pada Selasa, 7 Oktober 2025.
Ia berharap pelatihan ini dapat mendorong kemandirian posyandu dalam penyediaan pangan bergizi.
Senada dengan itu, Marselinus Laga Nur, menyampaikan bahwa intervensi gizi harus berakar pada kearifan lokal.
“Pangan lokal di NTT ini sangat beragam, hanya perlu inovasi pengolahan agar menarik dan bergizi,” katanya.
- Penulis: Johan Sogara

Saat ini belum ada komentar