DPR dan Stigma “Tertolol” Sahroni: Bagaimana dengan Soekarno dan Gus Dur?
- account_circle Johan Sogara
- calendar_month Sabtu, 30 Agt 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kiri ke kanan: Presiden Pertama RI, Soekarno, Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni, dan Presiden ke-4 RI, Gus Dur (Johan Sogara/Lintas Sumba)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
LINTAS SUMBA – Pernyataan mengejutkan keluar dari mulut Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni.
Ia menyebut, siapa pun yang ingin membubarkan DPR adalah orang “tertolol di dunia”. Sebuah ucapan yang tak hanya kasar, tetapi juga berbahaya secara politik.
Pernyataan itu tentu bukan sekadar respons emosional. Ia mencerminkan arogansi politik, seolah lembaga DPR suci dan tak boleh disentuh kritik. Padahal sejarah politik Indonesia pernah mencatat, gagasan pembubaran parlemen bukanlah tabu.
Kita ingat bagaimana Presiden Soekarno, Sang Proklamator, pernah membubarkan DPR hasil Pemilu 1955 karena dianggap menghambat jalannya Demokrasi Terpimpin.
Langkah serupa juga pernah dilakukan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang berupaya membubarkan DPR/MPR ketika konflik politik memuncak pada 2001.
Artinya, jika logika Sahroni dipakai mentah-mentah, maka Soekarno dan Gus Dur, dua tokoh besar bangsa itu, secara tidak langsung masuk kategori “tertolol di dunia”. Sebuah konsekuensi absurd dari retorika kasar seorang wakil rakyat yang lupa etika berbahasa.
Dalam politik, ucapan bisa lebih tajam dari peluru. Bukan hanya menyerang pihak luar, tetapi juga bisa menampar sejarah bangsanya sendiri.
Seharusnya Sahroni sadar, DPR lahir bukan untuk diagung-agungkan, melainkan untuk dikritisi. Bahkan, bila kinerjanya busuk, rakyat berhak melontarkan gagasan radikal, termasuk pembubaran.
Opini ini tidak hendak membela ide ekstrem. Tetapi ucapan Sahroni mencerminkan kepicikan berpikir.
- Penulis: Johan Sogara

Saat ini belum ada komentar