Anak Petani Asal Sumba Barat Daya Lolos Paskibraka Tingkat Nasional: Latar Belakang Keluarga Bukan Penghalang
- account_circle Johan Sogara
- calendar_month Rabu, 26 Jun 2024
- comment 0 komentar
- print Cetak

Frumentius Arison Ngongo dan tiga siswa lainnya, dua putra dan dua putri, saat seleksi Paskibraka tingkat nasional (Johan Sogara/Lintas Sumba)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
LINTAS SUMBA – Salah satu anak petani asal Sumba Barat Daya (SBD), berhasil mengukir prestasi yang membanggakan.
Frumentius Arison Ngongo, Siswa Kelas 2 SMAK St. Alfonsus Weetebula berusia 16 tahun, lolos sebagai anggota Paskibraka tingkat nasional.
Frumentius akan mewakili Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di ajang bergengsi tersebut.
Dia pun mengaku, bahwa sejak kecil ia sudah terbiasa memimpin upacara di sekolah dasar (SD) dan menjadi ketua pramuka saat SMP (Sekolah Menengah Pertama).
“Dari SD saya sudah dilatih baris-berbaris. Saya punya motivasi berawal dari sering nonton Paskibraka di TV. Nenek saya bilang, kamu harus jadi seperti mereka,” ungkap Frumentius kepada lintassumba.com, saat ditemui pada Rabu, 25 Juni 2024.
Keberhasilan seorang kakak kelas yang menjadi anggota Paskibraka juga menjadi motivasi besar bagi Frumentius. Sejak Februari 2024, ia mengikuti berbagai tes dan seleksi yang sangat ketat.
Setiap sekolah mengirimkan sepuluh perwakilan untuk seleksi tingkat kabupaten. Dari seratus peserta di SBD, terpilih 76 orang untuk mengikuti seleksi kabupaten.
Seleksi di tingkat provinsi semakin ketat. Dari 76 peserta, tim seleksi memilih sepuluh terbaik, termasuk Frumentius. Proses seleksi mencakup tes tertulis, wawancara, dan keterampilan baris-berbaris (PBB).
“Setelah hasil seleksi keluar, nama saya terpilih dari SBD dan provinsi meminta saya untuk mengikuti seleksi nasional,” tambahnya.
Seleksi nasional yang berlangsung selama sebulan di Kupang juga sangat menantang. Dari sekitar 50 peserta, Frumentius dan tiga lainnya, dua putra dan dua putri, lolos ke tingkat nasional.
Mereka langsung menjalani pemeriksaan kesehatan lengkap dan tes psikologi dengan lebih dari 300 soal.
“Meskipun saya sempat tidak yakin karena orang tua saya petani dan saingan saya berasal dari keluarga berada, doa dan keyakinan membuat saya terus berusaha. Saya senang luar biasa ketika terpilih, karena tidak semua orang memiliki kesempatan ini,” kata Frumentius.
- Penulis: Johan Sogara

Saat ini belum ada komentar