Soal Pemulangan 125 Jenazah Pekerja Migran NTT, Begini Faktanya!
- account_circle Ama Tassy Lake
- calendar_month Minggu, 2 Feb 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) NTT, Suratmi Hamida, saat ditemui Lintas Sumba di ruang kerjanya pada Jumat, 31 Januari 2025 (ATL/Lintas Sumba).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
“Sebagai pemerintah saya tidak bisa melarang orang kerja. Untuk mengentikan. Saya bisa dipidanakan,” terangnya.
Ia juga menjelaskan, bahwa pekerja migran asal NTT yang sebagian besar adalah perempuan, menghadapai berbagai masalah kesehatan selama bekerja, terutama yang berangkat secara non-prosedural.
Banyak pekerja yang mengalami gagal ginjal dan gangguan paru-paru akibat pola hidup yang tidak sehat dan kurangnya perhatian terhadap kondisi fisik mereka.
“Mereka hanya tahu cara bekerja, tetapi tidak tahu bagaimana merawat dirinya sendiri,” jelasnya.
Selain masalah kesehatan, fenomena stunting di NTT juga turut dipengaruhi oleh keberangkatan ibu-ibu muda yang meninggalkan anak-anak mereka.
“Ibu-ibu muda ini meninggalkan anak-anaknya diasuh oleh neneknya, tanpa ada perhatian yang cukup pada gizi dan pola asuh yang memadai,” terangnya.
Lebih lanjut, Suratmi juga menyoroti tingginya angka penempatan pekerja migran ke Malaysia yang berstatus pendidikan rendah, bahkan banyak yang hanya memiliki pendidikan dasar.
“Malaysia lebih menerima pekerja dari Indonesia tanpa memandang pendidikan, namun ini juga membawa risiko besar bagi keselamatan dan kesehatan mereka,” jelasnya.
Sebagai pemerintah, Suratmi mengimbau kepada keluarga pekerja migran untuk lebih berhati-hati dan memastikan bahwa informasi yang diterima terkait pekerjaan di luar negeri benar-benar sah dan aman.
- Penulis: Ama Tassy Lake

Saat ini belum ada komentar