Bidan Muda Flores Timur Gugur Usai Kecelakaan Rujukan Ibu Hamil, Sopir Diduga Mabuk
- account_circle Johan Sogara
- calendar_month Sabtu, 24 Jan 2026
- comment 1 komentar
- print Cetak

Bidan Desa Adabang, Kecamatan Titehena, Flores Timur, Yustina Gunu Leton (Johan Sogara/Lintas Sumba)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dalam perjalanan menuju Puskesmas Lato, kendaraan yang ditumpangi mengalami kecelakaan tunggal di ruas jalan Desa Watowara.
Mobil tersebut terguling saat melintasi tikungan tajam, hingga menyebabkan seluruh penumpang mengalami benturan keras.
Informasi awal menyebutkan sopir diduga mengemudi di bawah pengaruh alkohol dan melaju dengan kecepatan tinggi.
Dalam upayanya melindungi pasien dari benturan, Yustina terlempar keluar dari kendaraan dan mengalami luka parah.
Pasien ibu hamil berhasil diselamatkan dan tidak mengalami luka serius. Namun, Bidan Yustina mengalami luka berat, termasuk cedera kepala, luka di bagian perut, serta dugaan patah tulang.
Korban sempat mendapatkan pertolongan pertama di Puskesmas terdekat sebelum dirujuk ke RSUD Larantuka.
Kondisi Yustina terus memburuk sehingga direncanakan rujukan lanjutan ke Kupang untuk penanganan medis yang lebih intensif.
Namun, nyawa bidan muda tersebut tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia sebelum proses rujukan lanjutan terlaksana.
Kabar duka ini menyelimuti keluarga, rekan sejawat, serta masyarakat yang selama ini dilayani oleh almarhumah.
- Penulis: Johan Sogara
- Editor: Lintas Sumba

Kalau tenaga kesehatan khususnya bidan bertugas di desa atau puskesmas ada yg sampai 24 jam, dan ketika merujuk pasien demi keselamatan 2 jiwa atau lebih kadang tidak memperdulikan kesempatan dirinya, tapi di mana kepedulian pemerintah terhadap kondisi ini, kesejahteraan bidan masih jauh kalau di bandingkan dengan tugasnya, di bandingkan dengan guru tunjangan sertifikasi masuk setiap bulan di rekening pribadi, padahal kalau guru tidak masuk 1 hari sampai Minggu pun tidak ada efeknya, kalau tenaga kesehatan tidak ada yg bertugas jangankan 2 atau 3 hari, 1 hari saja mungkin akan banyak korban tapi kesejahteraan mereka terima jasa medis tak seberapa kenapa pemerintah pusat membedakan dengan guru?
24 Januari 2026 14:03