Pada Senja Itu Kutitipkan Rindu
- account_circle Lintas Sumba
- calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

Gambar Ilustrasi. Wanita dan Senja (Johan Sogara/Lintas Sumba)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
LINTAS SUMBA – Kita bagaikan sandhyakala, gurat merah di langit senja. Tidak banyak, namun indah menoreh warna pada kertas langit. Seperti itulah cerita hidup tentangku dan senja.
Dalam hidup ini, seringkali apa yang dibayangkan tidak sesuai dengan realita yang terpampang.
Realita yang terjadi membuat letusan yang mengagetkan sehingga ada yang ketakutan, kecewa, sedih, dan lain-lain dalam menghadapinya.
Namun demikian, realita mengantar aku pada satu kesadaran bahwa apa yang kubayangkan bukanlah sesuatu yang terbaik menurut Tuhan.
Realita itu tentangku dan senja, dalam lamunanku.
Senja itu selalu ada dan akan tetap ada. Selalu bisa kulihat ketika sang mentari mulai merayap menuju peraduannya, memberi tempat bagi guratan merah untuk menari-nari pada lembaran kertas langit.
Namun, tak selalu bisa kurasakan. Tak bisa kusentuh. Terasa dekat, tapi jauh. Ada, namun seperti tak ada. Sangat kontras.
Berharap suatu saat, pada lembaran kertas langit itu, senja dapat membaca tentang rindu yang kugoreskan.
Rindu yang selalu hadir dalam cerita ini, bahkan ketika kaki bersujud untuk bersyukur dan memohon ampun pada-Nya, di sana rindu itu menyelinap.
Ketika membaca rindu itu, semoga senja tidak menjadi cemas tentangku dan rinduku. Realita mengajarku untuk menerima bahwa rindu itu cukup kugoreskan, tak perlu kubawa apalagi kusampaikan.
Pada senja itu kutitipkan rindu. Pada senja yang datang menyapa, sekadar melepaskan dan mengobati sedikit rinduku.
Pada senja itu juga kutitipkan harapan. Semoga keindahan dan kebaikan hadirmu menjadi sukacita bagi setiap orang.
Pada senja itu kutitipkan rangkaian cerita akan rindu ini.***
- Penulis: Lintas Sumba








Saat ini belum ada komentar