Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Demisioner Bukan Akhir Pengabdian: Saat Jabatan Berakhir, Apakah Perjuangan Juga Selesai?

Demisioner Bukan Akhir Pengabdian: Saat Jabatan Berakhir, Apakah Perjuangan Juga Selesai?

  • account_circle Fian Tamo
  • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

LINTASSUMBA.COM – Demisioner sering dipahami sekadar sebagai berakhirnya masa jabatan dalam sebuah organisasi. Setelah kepengurusan selesai, maka selesai pula tanggung jawab dan ruang pengabdian. Cara pandang seperti ini membuat jabatan dianggap sebagai pusat perjuangan, bukan alat untuk bekerja dan melayani.

Padahal, dalam perspektif yang lebih luas, demisioner justru menjadi titik refleksi sekaligus awal dari tantangan baru. Di fase inilah seseorang diuji: apakah tetap setia pada nilai perjuangan atau justru berhenti ketika kehilangan posisi struktural.

Gagasan Marhaenisme yang diperkenalkan Soekarno menempatkan keberpihakan kepada rakyat kecil sebagai inti perjuangan. Kaum marhaen dipahami sebagai mereka yang hidup dalam keterbatasan namun tetap mandiri. Karena itu, Marhaenisme bukan hanya berbicara tentang ekonomi, tetapi juga tentang kesadaran, keberanian, dan kemandirian berpikir di tengah perubahan zaman.

Dalam konteks demisioner, nilai tersebut menjadi relevan. Berakhirnya jabatan bukan berarti berakhir pula kontribusi. Yang berubah hanyalah bentuk pengabdian. Seseorang mungkin tidak lagi memiliki panggung formal, tetapi bukan berarti kehilangan tanggung jawab moral terhadap organisasi maupun masyarakat.

Fenomena yang sering terjadi justru sebaliknya. Banyak orang mengalami “kekosongan peran” setelah demisioner. Ketika tidak lagi memegang jabatan, mereka merasa tidak memiliki ruang untuk berbuat. Ada pula yang masih ingin mempertahankan pengaruh secara terselubung karena belum siap kehilangan posisi. Situasi ini menunjukkan bahwa jabatan masih dipandang sebagai sumber utama kekuatan.

Padahal, Marhaenisme mengajarkan bahwa kekuatan sejati terletak pada kesadaran dan keberpihakan, bukan pada kursi kekuasaan. Mantan pengurus tetap memiliki tanggung jawab untuk mendampingi generasi penerus, memberi kritik secara sehat, serta menjaga arah perjuangan organisasi agar tidak kehilangan idealisme.

Demisioner juga menjadi ujian bagi kedewasaan organisasi. Apakah estafet kepemimpinan berjalan sehat dan demokratis, atau justru diwarnai konflik dan ego sektoral. Dalam semangat Marhaenisme, kepemimpinan bukan alat dominasi, melainkan sarana pemberdayaan dan kaderisasi.

Tantangan lain yang tidak kalah besar adalah pragmatisme. Tidak sedikit yang setelah demisioner memilih menjauh dari idealisme dan lebih fokus pada kepentingan pribadi. Perjuangan dianggap selesai ketika masa jabatan berakhir. Padahal, perjuangan sosial tidak pernah dibatasi oleh periode kepengurusan. Justru di luar struktur formal, seseorang sering memiliki ruang yang lebih bebas untuk berinovasi dan memberi dampak.

Karena itu, demisioner seharusnya dipahami sebagai transformasi, bukan terminasi. Fase ini menjadi kesempatan untuk membuktikan bahwa pengabdian sejati tidak bergantung pada atribut kekuasaan. Jabatan boleh berakhir, tetapi nilai perjuangan harus tetap hidup.

Pada akhirnya, relevansi Marhaenisme dalam konteks demisioner terletak pada kemampuannya mengembalikan orientasi perjuangan: dari jabatan menuju pengabdian, dari kekuasaan menuju keberpihakan. Sebab sejatinya, seorang pejuang tidak pernah benar-benar demisioner. Ia hanya berpindah medan juang.***

  • Penulis: Fian Tamo
  • Editor: Kobus Tena

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Open Turnamen Futsal Charlie Sport Center (CSC) Cup II (Johan Sogara/Lintas Sumba)

    Turnamen Futsal CSC Cup II Resmi Dibuka, 24 Tim Siap Berlaga

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle Johan Sogara
    • 0Komentar

    LINTAS SUMBA – Turnamen Futsal Charlie Sport Center (CSC) Cup II resmi dibuka. Open turnamen tersebut digelar di Lapangan Futsal CSC, Desa Radamata, Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Minggu, 1 Februari 2026. Turnamen ini merupakan agenda tahunan Asosiasi Futsal Kabupaten SBD yang didukung penuh oleh KONI Kabupaten SBD. Pantauan Lintassumba.com, kegiatan ini […]

  • Kapolres Ende AKBP I Gede Ngurah Joni M., saat melakukan penyerahan secara simbolis Baksos kepada perwakilan mahasiswa. (Istimewa/Lintas Sumba/ATL)

    Sambut Bulan Suci Ramadhan, Polres Ende Gandeng Mahasiswa Lakukan Giat Bakti Sosial Polri Presisi

    • calendar_month Jumat, 28 Feb 2025
    • account_circle Ama Tassy Lake
    • 0Komentar

    LINTAS SUMBA – Bertempat di Ruang PPKO Polres Ende, telah dilaksanakan Bakti sosial Polri Presisi Bersama Mahasiswa Aliansi BEM Dan OKP Menyambut Bulan Ramadhan 1446 H, Kamis (27/2/2025). Kegiatan Bakti Sosial Polri Presisi tersebut dipimpin langsung oleh Kapolres Ende AKBP I Gede Ngurah Joni M., yang didampingi Kasat Intelkam Polres Ende AKP Markus Frederiko Sega […]

  • Paralimpiade Paris 2024 berkahir, Indonesia Berada di Posisi 50 (@jokowi/Instagram/Lintas Sumba)

    Indonesia Berada di Posisi 50, Bendera Paralimpiade Berpindah ke Los Angeles: Bersiap untuk 2028!

    • calendar_month Selasa, 10 Sep 2024
    • account_circle Johan Sogara
    • 0Komentar

    LINTAS SUMBA – Kontingen Indonesia menutup perjalanan mereka di ajang Paralimpiade Paris 2024 dengan menempati posisi ke-50. Indonesia berhasil membawa pulang 1 medali emas, 8 medali perak, dan 5 medali perunggu dalam kompetisi olahraga terbesar dunia bagi atlet disabilitas ini. Sementara itu, China masih kokoh di puncak klasemen perolehan medali dengan total 94 medali emas, […]

  • Para anggota Paskibraka UNITRI Malang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sumatra hingga Papua (Johan Sogara/Lintas Sumba)

    Merah Putih Berkibar, Paskibraka UNITRI Wujud Miniatur Indonesia

    • calendar_month Senin, 18 Agt 2025
    • account_circle Johan Sogara
    • 0Komentar

    LINTAS SUMBA – Semangat kebhinekaan tercermin kuat dalam Pasukan Pengibar Bendera (Paskibraka) Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang. Hal itu nampak saat peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia, pada Minggu, 17 Agustus 2025. Saa itu, Paskibraka UNITRI tampil sebagai representasi mahasiswa dari berbagai daerah, mulai Sumatra, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga Papua. Keberagaman anggota Paskibraka tersebut menegaskan […]

  • Calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Ansy Lema dan Jane Natalia Suryanto, saat menghadiri debat publik perdana (Tangkap layar YouTube KPU NTT/Lintas Sumba)

    Fokus Ansy-Jane untuk Akar Rumput: Perempuan NTT Harus Tahu Hal Ini

    • calendar_month Kamis, 24 Okt 2024
    • account_circle Johan Sogara
    • 0Komentar

    LINTAS SUMBA – Pasangan Calon (Paslon) Gubernur Dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Yohanis Fransiskus Lema dan Jane Natalia Suryanto, menegaskan komitmen mereka untuk membangun NTT dari desa. Komitmen membangun dari akar rumput ini diungkapkan Ansy Lema, sapaan akrabnya, dalam debat perdana Pemilihan Gubernur (Pilgub) NTT 2024, di Millenium Ballroom, Kota Kupang, pada Rabu, […]

  • makanan pengganti padi

    6 Makanan Alternatif Pengganti Padi saat Gagal Panen

    • calendar_month Senin, 25 Mar 2024
    • account_circle Johan Sogara
    • 0Komentar

    LINTAS SUMBA – Padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi sebagian besar populasi di dunia. Namun, dengan perubahan iklim yang semakin tidak terduga, gagal panen padi menjadi risiko yang nyata bagi banyak petani. Untungnya, dengan kemajuan teknologi dan penelitian dalam pertanian, telah muncul berbagai alternatif makanan pengganti padi yang dapat membantu mengatasi tantangan ini. Berikut adalah […]

expand_less