Masihkah Kedde Orang Sumba, Relevan Dengan Generasi Barunya?
- account_circle Fr. Martinus Dendo Ngara, CSsR -Mahasiswa Universitas Sanata Dharma –Fakultas Teologi Wedabhakti.
- calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi Kedde di Sumba. (Oleh: Fr. Martinus Dendo Ngara, CSsR – Mahasiswa Universitas Sanata Dharma – Fakultas Teologi Wedabhakti)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Lintas Sumba – Budaya Kedde yang ada di Sumba (hampir pada umumnya) merupakan praktik budaya yang terus-menerus dipelihara oleh generasi Sumba. Kedde sebenarnya praktik yang kaya akan nilai moral karena di dalam praktik itu terselubung nilai universalitas seperti gotong royong, kepekaan untuk memberi pertolongan bagi sesama yang sedang berdukacita, kepedulian sosial, saling tolong menolong, dan cinta kasih.
Model dari praktik budaya Kedde ini adalah ketika ada orang yang meninggal, para sahabat dekat dari keluarga yang meninggal akan membawa kerbau, sapih, babi, anjing, ayam, dan lain sebagainya. Tujuannya adalah untuk memberikan bantuan kepada keluarga dari orang yang telah meninggal. Lewat praktik ini juga praktik persaudaraan semakin erat dan susah untuk pecah belah orang lain.
Namun, yang menjadi kelemahan dari praktik ini terletak pada praktik balas jasa yang justru menjerumuskan masyarakat Sumba ke dalam lingkaran kemiskinan yang terstruktur (kemiskinan yang diturunkan dari orang tua kepada anak). Ketika orang yang sudah menyumbangkan kerbau (atau pun hewan yang lainnya) sedang berduka atau sedang mengadakan pesta syukuran, maka mereka yang sudah pernah mengalami pertolongannya akan diminta untuk mengadakan kedde untuk membalas kembali kebaikannya.
Bagian inilah jurang yang menjerumuskan orang Sumba ke dalam lingkaran kemiskinan yang sudah menjadi pembenaran publik di kalangan orang Sumba. Sistem kerjanya adalah orang yang merasa berhutang budi akan berjuang mati matian demi mendapatkan kembali kerbau atau semacamnya dan kemudian melakukan Kedde yang sama pula kepada orang yang telah terlebih dahulu membantunya.
Meskipun berutang sekalipun ia akan tetap berjuang. Orang Sumba sangat malu bila tidak mengadakan Kedde bagi mereka yang telah terlebih dahulu mengadakan Kedde.
Bukan hanya budaya malu yang memaksa orang yang telah terlebih dahulu mengalami bantuan, tetapi orang yang telah memberikan bantuan terlebih dahulu seringkali melontarkan kalimat-kalimat yang membuat orang lain telah dibantunya semakin tertekan secara psikologi.
Misalnya; “Jangan permalukan saya di acara ini”, “Saya sudah tolong engkau waktu engkau membutuhkan bantuan, sekarang giliran saya yang membutuhkan bantuan”, “Hanya engkau yang saya harapkan untuk membawa hewan di pesta saya”, dan masih banyak lagi kalimat-kalimat yang justru memberikan ancaman-ancaman bagi orang yang telah dibantu. Maka, pada titik ini (bila kita mencoba berhenti dan berpikir sejenak) sebenarnya bukanlah lagi sebagai nilai tolong menolong yang diprioritaskan, tetapi unsur pemaksaan bagi mereka yang telah mengalami bantuan terlebih dahulu.
Keadaan “memiliki dan tidak memiliki” bukan lagi sebagai poin pertimbangan, tetapi yang dipikirkan adalah penyelamatan status sosial.
Urusan ekonomi tidak stabil bukan menjadi urusan yang terlalu urgen bagi orang Sumba, bahkan mereka memiliki prinsip yang berbunyi “na duwa lolopo ba datta nga’a da, takka datta makkeki a aro barrada hitti ullu duwa dengngada”, artinya lebih baik kita tidak makan daripada kita menanggung malu kepada mereka yang telah terlebih dahulu berbuat baik bagi kita. Atau “lakka da sakolah lakawa melle ta todi belliwi wutta soka da”, artinya lebih baik kita menutup dulu utang Kedde, daripada berhutang hanya untuk anak yang sekolah.
Memang ekstrim bagi orang dalam menghayati budaya yang ada pada mereka, tetapi sebenarnya mereka mesti sadar bahwa budaya yang mereka jalankan justru tidak membuat mereka bahagia dan menikmati makna kehidupan di dunia ini.
Bukan hanya di bidang makan dan minum atau di bidang pendidikan anak, tekanan lain yang muncul akibat dari budaya kedde ini adalah tekanan psikologi bagi orang yang sedang berhutang. Kerap kali orang tua mengajarkan kepada anak-anak mereka untuk mengatakan bahwa mereka tidak ada di rumah bila orang yang menagih hutang datang meminta kembali uang atau hewannya. Tekanan psikologis justru semakin fatal ketika orang yang berhutang itu tidak menemukan jalan keluar dan kemudian memandang kematian sebagai jalan yang paling baik untuk keluar dari lingkaran hutang yang tak kunjung beres.
Efek terstruktur dari budaya kedde kurang lebih ada beberapa bagian: pertama, anak terancam tidak sekolah bila orang tua sedang terlilit dengan hutang warisan terstruktur dari orang tua mereka sebelumnya (Ada orang Sumba yang memiliki 2 sampai 3 generasi bahkan ada yang lebih dari itu). Alasan yang saya temukan mengapa sampai berhutang secara turun temurun adalah karena sistem kapital ekonomi yang terlalu ekstrim. Di Sumba uang yang awalnya Rp.50.000 bila dipinjam, maka harus dikembalikan menjadi Rp.100.000. Demikian pun dengan jumlah yang lebih besar. Misalnya, uang yang dipinjam 5 juta, maka harus dikembalikan menjadi 10 juta. Bila waktu yang ditentukan tidak dilunasi, maka hutang yang tadinya 10 juta menjadi 20 juta. Fenomena seperti ini memang sangat memprihatinkan, tetapi ini yang terjadi di dalam masyarakat Sumba.
Kedua, kalau pun anak sekolah, mereka hanya sampai SMA karena untuk sampai bangku kuliah bagi sebagian masyarakat Sumba pada level itu rasa-rasanya sangat berat. Jalan lain yang dipilih adalah anak-anak yang mau kuliah terpaksa membunuh mimpi kuliah dan membanting stir mencari kerja demi membantu orang tua membayar hutang yang turun temurun.
Ketiga, efek lain dari budaya kedde adalah ancaman nyawa atau hidup seseorang. Bila orang yang berhutang tidak mampu membayar hutannya, maka orang itu akan berada pada fase stres berat. Sesuatu yang mungkin terjadi setidaknya ada dua posisi: (a) ancaman bunuh diri bila tidak menemukan jalan keluar atau (b) Ia diancam akan dibunuh oleh pemilik modal bila tidak segera membayar hutangnya. Pada posisi kedua masih terbuka untuk diselesaikan, yakni dengan cara pergi berhutang lagi kepada pihak lain. Jadi, semacam pindah orang dalam hal berhutang dengan konsekuensi-konsekuensi barunya.
Keempat, orang Sumba yang nyaman dalam lingkaran kemiskinan. Artinya kemiskinan dirasa sebagai hal yang biasa saja dan tidak perlu dipikirkan. Maka, efek lain dari kemiskinan pun tidak menjadi persoalan seperti gizi buruk, makan minum yang tidak terpenuhi, dan pendidikan. Dari realitas kedde ini mengajak kita untuk turut serta memberikan perhatian atau pandangan baru dengan tujuan pembebasan dari kemiskinan struktural.
Catatan khusus bahwa orang Sumba memiliki sumber daya alam yang sangat kaya dan memiliki potensi diri yang sangat baik. Maka, beberapa langkah yang bisa ditempuh adalah pertama, budaya kedde sebaiknya dipikirkan lagi. Apakah masih bisa diteruskan atau sebaiknya dihentikan karena untuk membantu orang yang berduka atau membangun ikatan persaudaraan tidak harus dengan cara-cara yang sangat ekstrim.
Kedua, kalau pun diteruskan sebaiknya sebaiknya adil juga dengan sisi-sisi hidup yang lain, seperti; aspek pendidikan, gizi yang stabil untuk anak-anak, tidak mewariskan hutang kepada anak-anak, dan tidak membunuh cita-cita generasi baru orang Sumba. Sehingga pesan yang bisa dipetik pada titik ini adalah kalau merasa diri kaya dan kecukupan, maka terbuka ruang untuk melakukan kedde, tetapi bila merasa hidup masih banyak kurang sebaiknya jangan memikirkan dulu untuk mengadakan kedde. Ketiga, kedde mestinya pro dengan kehidupan.
Kalau tidak pro dengan kehidupan dan justru mengancam kehidupan, maka tidak masalah bila kebudayaan sebaiknya dihilangkan. Dari langkah-langkah itu (bisa ditambahkan lagi) melahirkan sebuah pertanyaan reflektif untuk setiap generasi baru asal Sumba, yakni: masihkah budaya kedde relevan untuk mereka saat ini?***
- Penulis: Fr. Martinus Dendo Ngara, CSsR -Mahasiswa Universitas Sanata Dharma –Fakultas Teologi Wedabhakti.
- Editor: Hans Wea








Saat ini belum ada komentar