Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Kali Kehilangan Nafasnya, Belajar dari Surutnya Aliran Wee Kazi

Kali Kehilangan Nafasnya, Belajar dari Surutnya Aliran Wee Kazi

  • account_circle Gustaf Malo
  • calendar_month Minggu, 14 Jun 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Lintas SumbaKetika saya menonton film terkait air yang diputar oleh Yayasan Tumbuh Bumi Lestari, saya langsung teringat tentang aliran kali Wee Kazi. Video pendek yang diputar di sekretariat GMNI SBD pada minggu 14 Juni 2026 mengugah hati saya bagaimana pentingnya menjaga mata air dialiran sungai/kali. Video pendek tersebut mengajak kita bagaimana pentingnya merawat mata air mulai dari tidak membuang sampah hingga tidak melakukan penebangan pohon secara sembarangan atau berlebihan.

Video tersebut mengingatkan saya tentang mata air Wee Kazi pada sepuluh tahun lalu, waktu itu saya masih anak-anak. Masyarakat disekitar situ masih mengenal kali sebagai sumber kehidupan sehari-hari mereka. Bahkan aliran Wee Kazi nyaris tidak pernah benar-benar habis saat musim kemarau panjang.

Dulu debit airnya besar, alirannya terasa hidup, dan pada musim kemarau sekalipun masih menyisakan air yang cukup untuk kebutuhan rumah tangga, ternak, dan aktivitas sehari-hari masyarakat. Anak-anak bermain di tepian, warga mengambil air, dan air kali tersebut bahkan menjadi bagian dari ritme kehidupan masyarakat disekitarnya.

Namun kenyataan hari ini mulai berbeda.
Pada musim kemarau, aliran air di Kali Wee Kazi semakin surut. Di beberapa bagian, air yang dulu mengalir deras kini hanya tersisa genangan, bahkan hampir tidak terlihat.

Perubahan ini tidak terjadi dalam waktu sekejap bahkan penyebabnya tidak satu faktor saja. Ada beberapa faktor yang diduga menjadi penyebabnya mulai dari perubahan iklim, pola hujan, perubahan penggunaan lahan, dan tekanan terhadap lingkungan yang saling berkaitan.

Tetapi ada satu perubahan yang sulit diabaikan oleh ingatan masyarakat, yakni dengan semakin berkurangnya pohon-pohon besar di sepanjang aliran kali dan kawasan sekitarnya.

Selama ini banyak orang memahami hutan hanya sebagai kumpulan pohon. Padahal secara ekologis, hutan adalah sistem penyimpan dan pengatur air. Pohon dapat menahan jatuhnya hujan, akar membantu air meresap ke dalam tanah, dan lapisan organik di bawah hutan bekerja seperti spons yang menyimpan air lalu melepaskannya secara perlahan ke mata air dan sungai.

Penelitian hidrologi menunjukkan bahwa hutan bekerja sebagai “sponge and pump” atau spons dan pengatur air. Ketika tutupan hutan hilang dan kemampuan tanah menyerap air menurun, cadangan air tanah ikut berkurang sehingga aliran sungai pada musim kemarau dapat melemah. Dalam wilayah tropis yang memiliki perbedaan musim yang jelas, kehilangan tutupan pohon dapat menyebabkan sungai terlihat deras saat hujan tetapi lebih cepat surut saat kemarau.

Karena itu, surutnya aliran Kali Wee Kazi patut dibaca bukan hanya sebagai kurangnya hujan, tetapi juga sebagai kemungkinan melemahnya kemampuan bentang alam menyimpan air.

Pohon besar di sekitar bantaran kali sering dianggap tidak menghasilkan apa-apa selain bayangan. Padahal pohon besar adalah infrastruktur air yang dibangun alam selama puluhan tahun. Akar yang dalam membuka jalur masuk air ke tanah. Tanah yang tertutup menyimpan kelembapan lebih lama. Ketika pohon ditebang dan tanah terbuka, air hujan memang tetap turun, tetapi lebih cepat menjadi limpasan dan lebih sedikit yang disimpan untuk musim kering.

Ironisnya, dampak dari hilangnya pohon memang tidak langsung terasa. Pada awalnya masyarakat hanya melihat perubahan kecil, air sedikit berkurang, tanah lebih cepat kering, atau musim terasa lebih panas. Namun setelah bertahun-tahun, perubahan itu mulai terlihat nyata dalam bentuk sungai yang menyusut.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, yang hilang bukan hanya air. Yang ikut hilang adalah ketahanan pangan keluarga, produktivitas pertanian, ruang hidup ternak, dan hubungan masyarakat dengan sumber kehidupannya.

Tetapi tulisan saya ini bukan ajakan untuk menyalahkan siapa pun. Masih ada harapan.

Yang perlu dipahami adalah bahwa kerusakan pada daerah tangkapan air tidak selalu bersifat permanen. Alam memiliki kemampuan pulih apabila diberi ruang.

Merawat mata air dan bantaran Kali Wee Kazi tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Langkah pertama justru sederhana tetapi membutuhkan komitmen bersama.

Pertama, menghentikan penebangan pohon besar di sekitar aliran kali dan kawasan resapan. Pohon yang sudah tumbuh puluhan tahun tidak dapat digantikan dalam waktu singkat.

Kedua, menjaga zona hijau di kiri dan kanan aliran sungai. Bantaran sungai bukan ruang kosong, tetapi wilayah penyangga yang menjaga kestabilan air dan tanah.

Ketiga, menanam kembali vegetasi lokal yang memiliki kemampuan menyimpan air dan cocok dengan kondisi setempat.

Keempat, membangun kesadaran bahwa menjaga pohon bukan berarti menolak pembangunan, melainkan menjaga agar pembangunan tetap memiliki sumber air.

Kelima, mulai mencatat perubahan debit air secara sederhana dari tahun ke tahun agar keputusan masyarakat tidak hanya berdasarkan ingatan, tetapi juga berdasarkan pengamatan.

Kali yang sehat tidak lahir pada musim hujan. Kali yang sehat lahir dari bentang alam yang masih mampu menyimpan air ketika hujan datang.

Wee Kazi belum terlambat.

Air mungkin sedang surut, tetapi harapan belum ikut mengering. Selama masih ada pohon yang dipertahankan, mata air yang dijaga, dan masyarakat yang memilih merawat daripada menghabiskan, maka selalu ada kemungkinan suatu hari nanti aliran yang pernah besar itu kembali menemukan jalannya. Lewat tulisan saya ini, saya mau mengajak kita semua untuk berpikir dan bertindak untuk merawat dan menanam pohon-pohon yang mampu menyerap air untuk merawat kembali aliran sungai atau kali disekitar kita.***

 

  • Penulis: Gustaf Malo
  • Editor: Hans Wea

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mama-mama terlihat bahagia dengan Calon Gubernur Nusa Tenggara Timur Ansy Lema, yang berpasangan dengan Jane Natalia Suryanto, memperjuangkan hak perempuan lewat NTT Pertiwi (TIM/Lintas Sumba)

    NTT Pertiwi: Strategi Ansi-Jane Majukan Ekonomi Mama-Mama NTT

    • calendar_month Jumat, 4 Okt 2024
    • account_circle Johan Sogara
    • 0Komentar

    LINTAS SUMBA – Peran penting perempuan dalam rumah tangga, sangat terikat dengan pengelolaan keuangan. Banyak perempuan yang harus meminjam uang melalui koperasi harian untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, pada akhirnya mereka juga yang harus menghadapi penagih ketika pembayaran jatuh tempo. Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Yohanis Fransiskus Lema dan Jane […]

  • Ritual Adat Pasola di Sumba Barat Daya (SBD) Tahun 2024 (Lukas Budi/TikTok/Lintas Sumba)

    Jadwal Pasola 2026 Kodi Resmi Dirilis, Enam Lokasi Gelar Atraksi Febuari dan Maret

    • calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
    • account_circle Johan Sogara
    • 0Komentar

    LINTAS SUMBA – Jadwal pelaksanaan Pasola tahun 2026 untuk wilayah Kodi, Kodi Bangedo, dan Kodi Balaghar resmi diumumkan. Pengumuman rangkaian waktu dan lokasi Pasola pada Februari hingga Maret itu diterbitkan di Kampung Mbuku Bhani, Desa Ate Dalo, Kecamatan Kodi, pada Rabu, 21 Januari 2026. Saat itu, Bupati SBD, Ratu Ngadu Bonu Wulla, hadir langsung bersama […]

  • Lahan seluas 50 meter ditanam bawang merah oleh Kelompok Wanita Tani Gampong Kadang (Muhibbul Jamil/Lintas Sumba)

    Perkuat Ekonomi Rumah Tangga, KWT Gampong Ladang Tanam Bawang Merah Keempat Kali

    • calendar_month Selasa, 2 Sep 2025
    • account_circle Johan Sogara
    • 0Komentar

    LINTAS SUMBA – Kelompok Wanita Tani (KWT) Gampong Ladang kembali menanam bawang merah untuk keempat kalinya. Hal ini jadi bukti untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan penghasilan keluarga. Kegiatan penanaman berlangsung di lahan seluas 50 meter di Gampong Ladang, Kecamatan Sama Tiga, Aceh Barat, pada Selasa, 2 September 2025. Ketua KWT, Maryani, menjelaskan bahwa penanaman […]

  • Gambar Ilustrasi. Situasi di mana Kepala Sekolah mendapat sorotan sementara yayasan yang bertanggung jawab atas pengelolaan Dana BOS berada di bayang-bayang (Johan Sogara/Lintas Sumba)

    Jadi Kambing Hitam dalam Kasus Dugaan Korupsi Dana BOS? Kepala Sekolah Lingkup Yatutim Harus Tau Hal Ini

    • calendar_month Senin, 26 Agt 2024
    • account_circle Johan Sogara
    • 0Komentar

    LINTAS SUMBA – Kasus dugaan korupsi Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang melibatkan sekolah-sekolah di Yayasan Tunas Timur (Yatutim) menjadi sorotan publik. Bagaimana tidak, isu adanya upaya untuk menimpakan seluruh tanggung jawab kepada Kepala Sekolah kian menguat. “Masa kepala dinas yang kelola, bupati yang disalahkan?” ungkap Ketua Yatutim Dr. Soleman Lende Dappa, memberikan perumpamaan kepada […]

  • Wakil Bupati Sumba Barat Daya Terpilih, Dominikus Alphawan Rangga Kaka (Angga Kaka), saat meresmikan Turnamen Futsal Sandlewood Cup 2 di Lapangan Futsal Alam Hijau, Tambolaka (Johan Sogara/Lintas Sumba)

    Wakil Bupati Terpilih Angga Kaka Resmikan Turnamen Futsal Sandlewood Cup Jilid 2

    • calendar_month Rabu, 18 Des 2024
    • account_circle Johan Sogara
    • 0Komentar

    LINTAS SUMBA – Turnamen Futsal Sandlewood Cup Jilid 2 resmi digelar. Pembukaan acara ini dilakukan langsung oleh Wakil Bupati Sumba Barat Daya (SBD) terpilih, Dominikus Alphawan Rangga Kaka. Giat tersebut tepatnya terlaksana di Lapangan Futsal Alam Hijau, Desa Radamata, Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, pada Selasa, 17 Desember 2024. Dalam sambutannya, sosok yang […]

  • Bupati Ratu Ngadu Bonnu Wulla Buka Camat Wewewa Barat Cup I, 20 Desa Berebut Prestasi Olahraga

    Bupati Ratu Ngadu Bonnu Wulla Buka Camat Wewewa Barat Cup I, 20 Desa Berebut Prestasi Olahraga

    • calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
    • account_circle Kobus Tena
    • 0Komentar

    LINTAS SUMBA – Bupati Sumba Barat Daya (SBD), Ratu Ngadu Bonnu Wulla, S.T., secara resmi membuka Turnamen Sepak Bola Camat Wewewa Barat Cup I Tahun 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Lapangan Rato Dimu, Waimangura, Kecamatan Wewewa Barat, pada Rabu, 22 Juli 2026. Pembukaan turnamen ditandai dengan tendangan perdana (kick off) oleh Bupati SBDsebagai tanda dimulainya […]

expand_less