Budaya Absensi dan Menurunnya Keterlibatan Mahasiswa dalam Perkuliahan
- account_circle Santri Ningsih Gopa
- calendar_month Senin, 15 Jun 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Oleh: Santri Ningsih Gopa Kampus: unika weetabula
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Lapanenam.com – Perkuliahan merupakan bagian penting dalam proses pendidikan tinggi. Melalui kegiatan perkuliahan, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, berdiskusi, dan membangun keterampilan akademik yang dibutuhkan di masa depan.
Namun, di tengah perkembangan dunia pendidikan saat ini, muncul fenomena yang cukup memprihatinkan, yaitu kehadiran mahasiswa di kelas yang sering kali hanya dijadikan formalitas untuk memenuhi persyaratan absensi.
Fenomena tersebut masih mudah ditemukan di berbagai ruang kuliah. Tidak sedikit mahasiswa yang hadir secara fisik, tetapi kurang terlibat dalam proses pembelajaran. Sebagian lebih fokus pada telepon genggam, media sosial, atau percakapan dengan teman dibandingkan memperhatikan materi yang disampaikan dosen.
Akibatnya, kehadiran di kelas tidak lagi sepenuhnya mencerminkan keterlibatan dalam kegiatan belajar. Mahasiswa memang hadir, tetapi tidak benar-benar mengikuti proses pembelajaran yang berlangsung. Kondisi ini membuat tujuan utama perkuliahan menjadi kurang tercapai.
Salah satu penyebab fenomena ini adalah pandangan bahwa keberhasilan kuliah hanya ditentukan oleh nilai akhir dan kelulusan. Selama syarat kehadiran terpenuhi dan nilai dapat diperoleh, proses belajar sering kali dianggap kurang penting. Padahal, tujuan pendidikan tinggi bukan sekadar mengejar nilai, melainkan membangun pengetahuan, keterampilan, dan karakter.
Selain itu, perkembangan teknologi juga memengaruhi tingkat konsentrasi mahasiswa selama mengikuti perkuliahan. Kehadiran media sosial dan berbagai aplikasi digital membuat perhatian mahasiswa mudah teralihkan. Tidak sedikit mahasiswa yang lebih fokus pada layar telepon genggam dibandingkan materi yang sedang dijelaskan dosen.
Fenomena ini terlihat dari minimnya partisipasi mahasiswa saat diskusi kelas berlangsung. Ketika dosen memberikan kesempatan untuk bertanya atau menyampaikan pendapat, hanya sebagian kecil mahasiswa yang aktif, sementara yang lain memilih diam. Bahkan, ada mahasiswa yang kesulitan menjawab pertanyaan sederhana karena tidak mengikuti jalannya pembelajaran dengan baik.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kehadiran secara fisik belum tentu diikuti oleh kehadiran secara intelektual. Mahasiswa berada di dalam kelas, tetapi pikirannya tidak terlibat dalam proses belajar. Jika keadaan ini terus dibiarkan, kualitas pembelajaran tentu akan menurun.
Menurut pemikir pendidikan Paulo Freire, pendidikan seharusnya menjadi proses yang mendorong peserta didik untuk berpikir kritis dan terlibat aktif dalam pembelajaran. Artinya, mahasiswa tidak cukup hanya hadir di dalam kelas, tetapi juga harus berpartisipasi dan membangun pemahaman melalui interaksi dengan dosen maupun sesama mahasiswa.
Jika kehadiran hanya dimaknai sebagai kewajiban administratif, maka esensi pendidikan itu sendiri akan berkurang. Pembelajaran akan berubah menjadi rutinitas yang dijalani tanpa makna. Padahal, perguruan tinggi seharusnya menjadi ruang untuk mengembangkan potensi intelektual dan karakter mahasiswa.
Dampak dari fenomena ini tidak dapat dianggap sepele. Mahasiswa yang kurang terlibat dalam proses pembelajaran cenderung memiliki pemahaman yang dangkal terhadap materi kuliah. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan berpikir kritis, keterampilan komunikasi, dan kesiapan menghadapi dunia kerja.
Oleh karena itu, perlu ada kesadaran dari mahasiswa untuk mengubah cara pandang terhadap perkuliahan. Kehadiran di kelas seharusnya tidak hanya dipandang sebagai kewajiban untuk memenuhi persentase absensi, tetapi juga sebagai kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri. Motivasi belajar perlu dibangun dari kesadaran pribadi, bukan semata-mata karena tuntutan akademik.
Di sisi lain, dosen dan institusi pendidikan juga perlu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih interaktif. Metode pembelajaran yang melibatkan diskusi, studi kasus, maupun praktik langsung dapat membantu meningkatkan keterlibatan mahasiswa. Dengan demikian, proses belajar menjadi lebih menarik dan bermakna.
Pada akhirnya, kehadiran di kelas akan memiliki makna apabila diikuti dengan keterlibatan yang nyata dalam pembelajaran. Pendidikan yang berkualitas tidak lahir dari sekadar daftar hadir yang penuh, melainkan dari mahasiswa yang aktif berpikir, bertanya, berdiskusi, dan belajar.
Oleh karena itu, sudah saatnya mahasiswa memandang perkuliahan bukan hanya sebagai formalitas akademik, tetapi sebagai proses penting untuk mempersiapkan diri menjadi generasi yang berpengetahuan, kritis, dan bertanggung jawab.***
- Penulis: Santri Ningsih Gopa
- Editor: Kobus Tena


Saat ini belum ada komentar