Kesehatan Mental: Ketika Pertemanan dan Kuliah Turut Menjadi Korban
- account_circle Kobus Tena
- calendar_month 20 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Oleh: Devita Ngongo, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Katolik Weetebula
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
LINTAS SUMBA – Di kampus, mahasiswa dituntut berprestasi. Nilai harus tinggi, organisasi harus aktif, dan studi harus selesai tepat waktu. Namun, di balik tuntutan itu, ada persoalan yang sering luput dari perhatian: kesehatan mental.
Banyak mahasiswa memilih memendam kelelahan, kecemasan, dan tekanan karena takut dianggap lemah. Padahal, kemampuan seseorang untuk terus belajar tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh kondisi psikologisnya. Ketika kesehatan mental terganggu, hubungan sosial merenggang, semangat belajar menurun, dan prestasi akademik ikut terdampak.
Fenomena ini semakin mudah ditemui. Curahan hati di media sosial, mahasiswa yang menarik diri dari pergaulan, hingga meningkatnya kebutuhan layanan konseling menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental bukan sekadar tren, melainkan kenyataan yang dihadapi banyak anak muda.
Sayangnya, lingkungan pertemanan belum selalu menjadi ruang yang aman. Tidak sedikit mahasiswa yang justru menerima komentar seperti “terlalu banyak mengeluh”, “kurang bersyukur”, atau “kamu terlalu lemah”. Kalimat-kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi seseorang yang sedang berjuang menghadapi tekanan, ucapan tersebut dapat memperburuk keadaan.
Data kesehatan nasional menunjukkan masalah ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Gangguan kecemasan dan depresi banyak dialami kelompok usia produktif, termasuk mahasiswa. Dampaknya tidak hanya dirasakan secara emosional, tetapi juga memengaruhi kemampuan berkonsentrasi, mengingat materi kuliah, hingga menyelesaikan tugas akademik.
Dalam kondisi seperti itu, mahasiswa sering terlambat mencari bantuan. Banyak yang baru mendatangi layanan konseling setelah nilai menurun atau studi mulai terhambat. Padahal, penanganan sejak dini dapat mencegah masalah berkembang menjadi lebih serius.
Karena itu, membangun budaya saling peduli di lingkungan kampus menjadi kebutuhan. Teman sebaya memiliki peran penting mengenali perubahan perilaku, mendengarkan tanpa menghakimi, dan mendorong mereka yang membutuhkan untuk mencari bantuan profesional.
Di sisi lain, perguruan tinggi perlu memperkuat layanan kesehatan mental agar mudah diakses dan benar-benar berfungsi. Dosen juga perlu memiliki kepekaan untuk mengenali mahasiswa yang menunjukkan tanda-tanda mengalami tekanan psikologis.
Prestasi akademik memang penting, tetapi tidak boleh dicapai dengan mengorbankan kesehatan jiwa. Kampus semestinya menjadi ruang yang tidak hanya melahirkan lulusan berprestasi, melainkan juga manusia yang sehat secara mental, mampu bertumbuh, dan saling mendukung.
Sebab, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari indeks prestasi, tetapi juga dari kemampuan menciptakan lingkungan yang menghargai kemanusiaan. Di tengah tingginya tuntutan akademik, sudah saatnya kesehatan mental ditempatkan sebagai bagian penting dari kualitas pendidikan, bukan sekadar persoalan pribadi yang harus dipikul sendiri.***
- Penulis: Kobus Tena
- Editor: Lintas Sumba

Saat ini belum ada komentar