Nonton Bareng Film Lingkungan, YTBL dan Mahasiswa GMNI Dorong Kesadaran Kelola Sampah dan Jaga Sumber Air di Sumba Barat Daya
- account_circle Hans Wea
- calendar_month 11 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto Bersama Setelah Nobar. (Dok;Lintas Sumba/Hans Wea)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Lintas Sumba – Yayasan Tumbuh Bumi Lestari (YTBL) melalui program Suara Hijau menggelar kegiatan nonton bareng (Nobar) film pendek edukasi lingkungan hidup bersama puluhan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi GMNI Cabang Sumba Barat Daya (SBD), Sabtu (13/6/2026) di sekretariat GMNI SBD.
Film yang mengangkat tema sampah plastik dan krisis air ini menjadi ruang belajar sekaligus ruang refleksi bagi peserta untuk melihat lebih dekat persoalan lingkungan yang tengah dihadapi Pulau Sumba terutama di kabupaten Sumba Barat Daya (SBD).
Dalam proses nonton bareng ini, kegiatan tidak langsung dimulai dengan pemutaran film. Direktur Eksekutif Yayasan Tumbuh Bumi Lestari (YTBL), Boyke Hutapea, terlebih dahulu mengajak peserta melakukan refleksi sederhana namun mendalam dengan menelusuri jejak plastik yang mereka gunakan dalam satu minggu terakhir.
Setiap peserta diminta menuliskan jenis-jenis plastik yang mereka konsumsi sehari-hari pada lembar sticky note, lalu menempelkannya pada kertas plano yang telah disediakan. Aktivitas ini menjadi pembuka diskusi yang menunjukkan bahwa persoalan sampah bukan hanya berasal dari luar diri, tetapi juga dari kebiasaan harian yang sering tidak disadari.
Dari kemasan makanan, botol minuman, kantong belanja hingga plastik sekali pakai lainnya, peserta mulai menyadari besarnya konsumsi plastik yang mereka hasilkan setiap pekan.
Setelah sesi refleksi, film diputar dan mendapat perhatian penuh dari peserta. Film tersebut tidak hanya menampilkan keindahan bentang alam Pulau Sumba, tetapi juga memperlihatkan sisi lain yang sedang dihadapi masyarakat, mulai dari persoalan sampah yang belum tertata hingga ancaman menurunnya kualitas dan ketersediaan sumber daya air.
Antusiasme mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) terlihat kuat selama sesi diskusi. Peserta tidak hanya menyampaikan kesan terhadap film, tetapi juga mengaitkannya dengan kondisi nyata yang mereka lihat sehari-hari di wilayah Sumba Barat Daya.
Salah satu tanggapan datang dari Sarinah Tita, Sekretaris GMNI Cabang Sumba Barat Daya. Ia menilai film yang diputar berhasil memperlihatkan kontras antara keindahan alam Sumba dan persoalan lingkungan yang sedang berkembang.
Menurutnya, pengelolaan sampah di wilayah SBD masih menjadi pekerjaan besar karena masih ditemukan sampah yang dibuang sembarangan dan belum tertangani secara sistematis.
“Film ini memperlihatkan betapa indahnya Pulau Sumba, tetapi di balik itu kita sedang menghadapi kenyataan bahwa pengaturan sampah masih belum teratur. Sampah masih banyak terbuang di berbagai tempat dan belum dikelola dengan baik,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya perhatian pemerintah dalam menyediakan sarana pendukung seperti tempat sampah pada titik-titik strategis agar masyarakat lebih mudah menerapkan perilaku pengelolaan sampah.
Pandangan serupa disampaikan Sofia Wolla, mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Stella Maris Sumba yang juga tergabung dalam GMKI. Ia menilai film tersebut memberikan pesan kuat tentang pentingnya perubahan perilaku dalam penggunaan plastik.
“Film ini sangat menginspirasi. Kita diajarkan untuk mulai sadar bagaimana mengelola sampah dan mengurangi penggunaan plastik,” ungkap Sofia.
Dalam diskusi, Sofia juga menyoroti pentingnya perubahan cara pandang terhadap TPA.
“Yang diperlukan adalah tempat pemrosesan akhir, bukan tempat pembuangan akhir. Kalau tempat pembuangan akhir berarti dibuang dan dibiarkan begitu saja, padahal yang kita ingin lihat adalah sampah bisa diproses dan didaur ulang kembali,” jelasnya.
Ia turut mendorong adanya sistem pengelolaan yang lebih dekat dengan masyarakat, termasuk penyediaan tempat sampah di rumah tangga yang kemudian diangkut dan dikelola secara teratur oleh petugas.
Selain persoalan sampah, Sofia juga menyinggung isu air yang menurutnya mulai menunjukkan gejala penurunan debit di beberapa wilayah Sumba Barat Daya. Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan maraknya penebangan pohon yang terjadi di kawasan hutan.
Menanggapi berbagai pandangan peserta, Direktur Eksekutif YTBL Boyke Hutapea yang memoderatori diskusi menekankan bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari prinsip yang benar, yakni Reduce, Reuse, Recycle (3R).
“Urutannya tidak boleh dibalik. Yang pertama itu Reduce atau mengurangi. Karena inti dari penyelesaian masalah sampah adalah bagaimana kita menghasilkan sampah lebih sedikit sejak awal,” jelas Boyke.
Ia juga mengingatkan bahwa persoalan sampah tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga berkontribusi terhadap perubahan iklim.
Menurutnya, lebih dari 60 persen sampah yang masuk ke tempat pengelolaan akhir di Indonesia merupakan sampah organik atau sisa makanan. Jika terus menumpuk, sampah tersebut dapat menghasilkan gas metana yang berkontribusi terhadap pemanasan global dan berpotensi memicu bencana seperti ledakan timbunan sampah.
Karena itu, ia menegaskan pentingnya pemilahan antara sampah organik dan non-organik sejak dari rumah.
Menutup kegiatan, Sekretaris GMNI Nusa Tenggara Timur, Dedianto Kezo, mengajak peserta agar tidak berhenti pada diskusi dan edukasi semata.
“Kita harus mampu mengaktualisasikan dalam bentuk tindakan. Jangan hanya jago beretorika. Kalau kita sendiri belum selesai dengan perilaku kita, lalu keluar mengedukasi orang lain, itu menjadi persoalan,” tegasnya.
Menurut Dedianto, menjaga lingkungan adalah bentuk menjaga sumber kehidupan itu sendiri. Ia menekankan bahwa persoalan sampah tidak boleh dilihat sebagai beban, melainkan sebagai tanggung jawab moral bersama, terutama bagi generasi muda dan kaum intelektual.
Ia juga mendorong adanya penguatan regulasi melalui penyusunan Peraturan Daerah (Perda) hingga Peraturan Desa (Perdes) sebagai instrumen pendukung pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Menutup sambutannya, Dedianto mengingatkan bahwa Pulau Sumba memiliki masa depan yang menjanjikan dan tidak boleh kehilangan daya tariknya karena persoalan lingkungan.
“Sumba ini sangat indah dan sangat menjanjikan. Jangan sampai dirusak oleh sampah. Siapa yang harus memulai membereskan ini? Bukan siapa-siapa, tetapi kita bersama,” pungkasnya.
Lintas Sumba – Yayasan Tumbuh Bumi Lestari (YTBL) melalui program Suara Hijau menggelar kegiatan nonton bareng (Nobar) film pendek edukasi lingkungan hidup bersama puluhan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi GMNI Cabang Sumba Barat Daya (SBD), Sabtu (13/6/2026) di sekretariat GMNI SBD.
Film yang mengangkat tema sampah plastik dan krisis air ini menjadi ruang belajar sekaligus ruang refleksi bagi peserta untuk melihat lebih dekat persoalan lingkungan yang tengah dihadapi Pulau Sumba terutama di kabupaten Sumba Barat Daya (SBD).
Dalam proses nonton bareng ini, kegiatan tidak langsung dimulai dengan pemutaran film. Direktur Eksekutif Yayasan Tumbuh Bumi Lestari (YTBL), Boyke Hutapea, terlebih dahulu mengajak peserta melakukan refleksi sederhana namun mendalam dengan menelusuri jejak plastik yang mereka gunakan dalam satu minggu terakhir.
Setiap peserta diminta menuliskan jenis-jenis plastik yang mereka konsumsi sehari-hari pada lembar sticky note, lalu menempelkannya pada kertas plano yang telah disediakan. Aktivitas ini menjadi pembuka diskusi yang menunjukkan bahwa persoalan sampah bukan hanya berasal dari luar diri, tetapi juga dari kebiasaan harian yang sering tidak disadari.
Dari kemasan makanan, botol minuman, kantong belanja hingga plastik sekali pakai lainnya, peserta mulai menyadari besarnya konsumsi plastik yang mereka hasilkan setiap pekan.
Setelah sesi refleksi, film diputar dan mendapat perhatian penuh dari peserta. Film tersebut tidak hanya menampilkan keindahan bentang alam Pulau Sumba, tetapi juga memperlihatkan sisi lain yang sedang dihadapi masyarakat, mulai dari persoalan sampah yang belum tertata hingga ancaman menurunnya kualitas dan ketersediaan sumber daya air.
Antusiasme mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) terlihat kuat selama sesi diskusi. Peserta tidak hanya menyampaikan kesan terhadap film, tetapi juga mengaitkannya dengan kondisi nyata yang mereka lihat sehari-hari di wilayah Sumba Barat Daya.
Salah satu tanggapan datang dari Sarinah Tita, Sekretaris GMNI Cabang Sumba Barat Daya. Ia menilai film yang diputar berhasil memperlihatkan kontras antara keindahan alam Sumba dan persoalan lingkungan yang sedang berkembang.
Menurutnya, pengelolaan sampah di wilayah SBD masih menjadi pekerjaan besar karena masih ditemukan sampah yang dibuang sembarangan dan belum tertangani secara sistematis.
“Film ini memperlihatkan betapa indahnya Pulau Sumba, tetapi di balik itu kita sedang menghadapi kenyataan bahwa pengaturan sampah masih belum teratur. Sampah masih banyak terbuang di berbagai tempat dan belum dikelola dengan baik,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya perhatian pemerintah dalam menyediakan sarana pendukung seperti tempat sampah pada titik-titik strategis agar masyarakat lebih mudah menerapkan perilaku pengelolaan sampah.
Pandangan serupa disampaikan Sofia Wolla, mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Stella Maris Sumba yang juga tergabung dalam GMKI. Ia menilai film tersebut memberikan pesan kuat tentang pentingnya perubahan perilaku dalam penggunaan plastik.
“Film ini sangat menginspirasi. Kita diajarkan untuk mulai sadar bagaimana mengelola sampah dan mengurangi penggunaan plastik,” ungkap Sofia.
Dalam diskusi, Sofia juga menyoroti pentingnya perubahan cara pandang terhadap TPA.
“Yang diperlukan adalah tempat pemrosesan akhir, bukan tempat pembuangan akhir. Kalau tempat pembuangan akhir berarti dibuang dan dibiarkan begitu saja, padahal yang kita ingin lihat adalah sampah bisa diproses dan didaur ulang kembali,” jelasnya.
Ia turut mendorong adanya sistem pengelolaan yang lebih dekat dengan masyarakat, termasuk penyediaan tempat sampah di rumah tangga yang kemudian diangkut dan dikelola secara teratur oleh petugas.
Selain persoalan sampah, Sofia juga menyinggung isu air yang menurutnya mulai menunjukkan gejala penurunan debit di beberapa wilayah Sumba Barat Daya. Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan maraknya penebangan pohon yang terjadi di kawasan hutan.
Menanggapi berbagai pandangan peserta, Direktur Eksekutif YTBL Boyke Hutapea yang memoderatori diskusi menekankan bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari prinsip yang benar, yakni Reduce, Reuse, Recycle (3R).
“Urutannya tidak boleh dibalik. Yang pertama itu Reduce atau mengurangi. Karena inti dari penyelesaian masalah sampah adalah bagaimana kita menghasilkan sampah lebih sedikit sejak awal,” jelas Boyke.
Ia juga mengingatkan bahwa persoalan sampah tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga berkontribusi terhadap perubahan iklim.
Menurutnya, lebih dari 60 persen sampah yang masuk ke tempat pengelolaan akhir di Indonesia merupakan sampah organik atau sisa makanan. Jika terus menumpuk, sampah tersebut dapat menghasilkan gas metana yang berkontribusi terhadap pemanasan global dan berpotensi memicu bencana seperti ledakan timbunan sampah.
Karena itu, ia menegaskan pentingnya pemilahan antara sampah organik dan non-organik sejak dari rumah.
Menutup kegiatan, Sekretaris GMNI Nusa Tenggara Timur, Dedianto Kezo, mengajak peserta agar tidak berhenti pada diskusi dan edukasi semata.
“Kita harus mampu mengaktualisasikan dalam bentuk tindakan. Jangan hanya jago beretorika. Kalau kita sendiri belum selesai dengan perilaku kita, lalu keluar mengedukasi orang lain, itu menjadi persoalan,” tegasnya.
Menurut Dedianto, menjaga lingkungan adalah bentuk menjaga sumber kehidupan itu sendiri. Ia menekankan bahwa persoalan sampah tidak boleh dilihat sebagai beban, melainkan sebagai tanggung jawab moral bersama, terutama bagi generasi muda dan kaum intelektual.
Ia juga mendorong adanya penguatan regulasi melalui penyusunan Peraturan Daerah (Perda) hingga Peraturan Desa (Perdes) sebagai instrumen pendukung pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Menutup sambutannya, Dedianto mengingatkan bahwa Pulau Sumba memiliki masa depan yang menjanjikan dan tidak boleh kehilangan daya tariknya karena persoalan lingkungan.
“Sumba ini sangat indah dan sangat menjanjikan. Jangan sampai dirusak oleh sampah. Siapa yang harus memulai membereskan ini? Bukan siapa-siapa, tetapi kita bersama,” pungkasnya.
- Penulis: Hans Wea
- Editor: Hans Wea








Saat ini belum ada komentar