Kita Batu Penjuru, Bukan Batu Sandungan: Pesan Penguat Iman dalam Perayaan Ekaristi Minggu Paskah Ke-5
- account_circle Maksi Tena
- calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

RD. Vinsensius Kristianto Tena, Pr, Saat memberikan Homili di Umat Katolik Stasi Halamadeta. (Lintas Sumba/Maksi Tena)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
LINTAS SUMBA – Umat Katolik di Stasi Halamadeta, Kodi Bangedo, Paroki Santo Yosep Waimarama, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, diajak untuk memperdalam iman, pengharapan, dan kasih dalam perayaan Ekaristi Minggu Paskah Ke-5 yang berlangsung pada Minggu 03 Mei 2026.
Perayaan ini dipimpin oleh RD Vinsensius Kristianto Tena, Pr, dengan mengangkat tema “Tuhan Yesus adalah Jalan dan Kehidupan”.
Dalam homilinya, Romo Vinsensius atau akrab disapa Romo Yanto, menegaskan bahwa Gereja bukan sekadar tempat berkumpul untuk kepentingan duniawi, melainkan ruang bagi orang-orang berdosa yang datang memohon kerahiman Allah.
Ia mengingatkan umat agar menyadari makna kehadiran dalam Ekaristi sebagai bentuk kerinduan akan belas kasih Tuhan.
“Setiap orang yang datang ke gereja adalah pribadi yang membutuhkan rahmat Allah. Ekaristi menjadi kesempatan untuk mengalami kasih-Nya,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya sakramen sebagai bagian dari persiapan iman dalam menyambut kehidupan ilahi.
Menurutnya, kesempatan untuk hadir, duduk, dan berdoa di dalam gereja merupakan anugerah yang patut disyukuri dan dihayati secara sungguh-sungguh.
Bacaan dari Kisah Para Rasul tentang pemilihan para diakon turut menjadi refleksi dalam perayaan tersebut.
Pesan yang ditekankan adalah panggilan umat untuk menjadi “batu penjuru”, yakni pribadi yang menguatkan dan membangun, bukan “batu sandungan” yang menghambat kehidupan iman sesama.
Selain itu, umat juga diajak untuk menghidupi devosi kepada Bunda Maria melalui doa Rosario.
Romo Yanto juga memberikan ajakan sederhana agar doa tetap menjadi bagian dari keseharian, meskipun dalam bentuk singkat.
“Jika tidak sempat berdoa Rosario penuh, umat bisa membiasakan doa sederhana seperti Salam Maria sebelum makan dan Bapa Kami sesudahnya,” katanya.
Dalam kesempatan itu, juga disampaikan pentingnya keluarga sebagai “gereja mini”, tempat pertama dan utama pertumbuhan iman.
Ia mengingatkan bahwa pertobatan dan penghayatan iman harus dimulai dari lingkungan keluarga.
Di akhir perayaan, umat kembali diingatkan akan makna pengutusan dalam Misa. Iman, menurut Romo, tidak berhenti di dalam gereja, melainkan harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai kesaksian nyata di tengah masyarakat.
Pesan ini juga ditujukan kepada kaum muda agar mampu menerima diri dan bertumbuh dalam iman.
Mereka diajak untuk menyadari nilai diri sebagai ciptaan Tuhan sekaligus terus mengembangkan kualitas hidup rohani.
Menutup homilinya, Romo Yanto menegaskan bahwa iman bukan sesuatu yang ditunda hingga akhir hidup, melainkan harus dijalani setiap hari.
“Beriman adalah proses seumur hidup. Bukan sekadar hadir di gereja, tetapi bagaimana kita sungguh menghidupi Ekaristi dalam keseharian,” Ujarnya menutup homilinya.***
- Penulis: Maksi Tena
- Editor: Maksi Tena








Saat ini belum ada komentar