Fraksi PDI Perjuangan Desak Pemerintah SBD Tuntaskan Sengketa Wee Kura – Weri Lolo
- account_circle Lintas Sumba
- calendar_month Rabu, 22 Okt 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Sumba Barat Daya (SBD), Octavianus Dapa Talu (ATL/Lintas Sumba)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
LINTAS SUMBA – Perseteruan antara warga Desa Wee Kura dan Weri Lolo di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) kini menelan korban jiwa. Satu orang meninggal dunia, satu lainnya luka-luka.
Peristiwa berdarah itu terjadi di wilayah perbatasan kedua desa, Kecamatan Wewewa Barat dan Wewewa Selatan, pada Jumat, 13 Oktober 2025.
Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD SBD, Octavianus Dapa Talu, menyayangkan bentrokan tersebut.
Ia menegaskan, bahwa persoalan utama bukan pada batas administratif desa, melainkan soal kepemilikan lahan antarwarga.
Menurut Octavianus, konflik bermula dari klaim lahan yang sama-sama dianggap milik oleh warga kedua desa.
Masyarakat Weri Lolo menegaskan lahan itu peninggalan leluhur mereka, sementara warga Wee Kura meyakini lahan tersebut adalah milik mereka karena berada dalam wilayah administrasi desa.
“Untuk menyelesaikan permasalahan ini, Pemda SBD harus melihat kembali sejarah tanah ulayat yang bermasalah tersebut. Pada tahun 2002 yang lalu Bupati Sumba Barat, Timo Langgar, saat itu sudah berupaya menyelesaikan permasalahan kedua desa ini sebelum Kabupaten SBD mekar yang disaksikan oleh tokoh masyarakat saat itu,” ujar Octavianus, saat ditemui wartawan, pada Selasa, 21 Oktober 2025.
Ia mengungkap, saat itu saksi-saksi adat dari kedua pihak hadir menyepakati batas tanah dengan tanda “mawo” di tiga titik.
Namun, kata Octavianus, kini satu tanda mawo di wilayah perbatasan tersebut hilang, dan memicu pertikaian baru antarwarga.
- Penulis: Lintas Sumba

Saat ini belum ada komentar