Tokoh Agama, Sesalkan Tren Aksi Bunuh Diri di NTT
- account_circle Ama Tassy Lake
- calendar_month Rabu, 22 Jan 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

Tokoh Agama Romo. Amanche Franck Oe Ninu Pr. (Istimewa/Lintas Sumba/ATL)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
LINTAS SUMBA – Tokoh agama Kota Kupang, Romo. Amanche Franck Oe Ninu Pr menyayangkan peristiwa bunuh diri yang saat ini menjadi topik perbincangan hangat di masyarakat.
“Memang kita menyesali perbuatan suadara-saudara kita yang melakukan aksi bunuh diri. Biar bagaimana pun kehidupan adalah rahmat anugerah dari Tuhan yang harus dijaga. Nafas kehidupan itu adalah pemberian dari Allah sekaligus tanggung jawab bagi manusia. Jadi bunuh diri adalah penolakan terhadap rahmat dan anugerah yang Tuhan berikan,” kata RD Amanche, Selasa (22/1/2024).
Menurutnya dari sisi iman aksi bunuh diri adalah dosa. Sebab hal tersebut merupakan suatu kondisi di mana manusia tidak berhasil menjaga anugerah/rahmat dan juga kepercayaan yang diberikan Tuhan dalam kehidupannya. Bukan hanya oknum yang melakukan tindakan bunuh diri mengalami kematian secara paksa, akan tetapi baginya oknum tersebut menolak rahmat dan sekaligus menutup harapan di masa depan.
RD Amanche munuturkan bahwa semuanya itu adalah dosa karena orang-orang yang melakukan bunuh diri itu mereka telah menolak rahmat anugerah dari Tuhan yakni cinta Tuhan yang berlimpah yang diterima lewat kelahiran, keberadaan manusia di dunia, baik perjumpaan, persahabatan, dan kesempatan untuk melayani dan hadir sebagai sahabat dan saudara.
Aksi bunuh diri adalah penolakan terhadap hal-hal tersebut. Padahal sebagai orang-orang beriman manusia mestinya berjalan menuju masa depan, meskipun terdapat banyak rintangan dan tantangan-tantangan kesulitan dosa di dunia ini. Manusia semestinya memberi perspektif harapan dalam hidup.
“Kita juga perlu berbicara tentang bagaimana kita sebagai komunitas beriman orang-orang beriman bukan hanya gereja saja tetapi semua orang yang percaya pada kehidupan yang memberikan harapan kita juga harus membuat masyarakat kita menjadi masyarakat yang berpengharapan,” ucapnya.
RD Amanche juga menerangkan tindakan bunuh diri disebabkan oleh persoalan-persoalan pribadi atau persolan-persoalan lingkungan masyarakat.
Kondisi lingkungan sosial itu seperti kompetisi-kompetisi tidak sehat, ekspektasi dan harapan manusia di dunia yang secara komunal terbentuk. Sebagai anggota masyarakat bersama, manusia dalam menjalani kehidupan ini harus memberi paradigma yang lebih berpengharapan dan perilaku yang lebih menggembirakan serta optimisme ketika manusia hidup bersama berjumpa untuk saling melayani sebagai saudara dan sahabat di tengah gereja dan dunia.
Lebih lanjut, RD Amanche menambahkan bahwa dari hal tersebut, manusia bisa saling memberi ruang kepada sesama, saling mendengarkan, memberi pengharapan, terutama ketika kita bertemu langsung ataupun ketika menggunakan media sosial. Sebab, itu adalah anugerah Tuhan yang Tuhan berikan kepada manusia lewat daya intelektual.
“Jadi penggunaan media sosial itu juga itu menurut saya harus bijaksana. Artinya berita-berita, informasi, cerita, narasi, yang kita bangun itu harus adalah narasi yang berpengharapan perjumpaan yang kita buat juga harus seperti itu. Sehingga terbentuklah komunitas yang memberikan pengharapan meskipun orang hidup di dalam persoalan-persoalan dalam keterbatasan sehingga bunuh diri si oknum yang mau bunuh diri tidak boleh menjadi pilihan,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMPK) St. Yosep Naikoten itu menuturkan bahwa orang yang melakukan bunuh diri bisa terjadi karena orang tersebut tidak memiliki tempat untuk bercerita. Oleh sebab itu, ia berharap sebagai insan manusia dalam hidup bersama manusia perlu menciptakan ruang-ruang yang dapat memberikan daya pengharapan intelektual.
Dia juga sempat menghubungkan tema Natal tahun 2024 yang baru dilalui umat Kristiani dengan tema “Marilah sekarang kita pergi ke Betlehem”.
Ajakan pergi ke Betlehem bertujuan agar manusia bisa pergi dan lihat di sana manusia mengalami banyak hal termasuk keselamatan. Manusia juga menjadi Betlehem, tempat di mana orang pergi berjumpa. Hati manusia adalah hati Betlehem. Manusia semestinya memberikan ruang-ruang pengharapan kepada saudara dan sahabatnya di dunia ini dan pihaknya juga menyayangi orang-orang memilih jalan bunuh diri tetapi tindakannya itu sangat sesalkan.***
- Penulis: Ama Tassy Lake

Saat ini belum ada komentar