Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Jika Gubernur NTT Bersedia Menemui Massa Aksi, Tidak Ada Bentrok Antara Polisi dan Mahasiswa

Jika Gubernur NTT Bersedia Menemui Massa Aksi, Tidak Ada Bentrok Antara Polisi dan Mahasiswa

  • account_circle Ming
  • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Dominggus Ghoghi, Aktivis PMKRI Cabang Tambolaka Santo Agustinus 

 

Lintas Sumba – Saya melihat ada pola yang terus berulang dalam sejarah gerakan mahasiswa, baik di tingkat nasional maupun daerah. Hampir setiap bentrok antara mahasiswa dan aparat kepolisian selalu diawali oleh hal yang sama, yakni tidak adanya ruang dialog antara massa aksi dan penguasa. Di saat pemimpin memilih tidak menemui mahasiswa, situasi di lapangan perlahan bergerak menuju ketegangan. Emosi massa meningkat, aparat memperketat pengamanan dan benturan menjadi sesuatu yang mudah diprediksi.

Dalam konteks aksi mahasiswa di Kota Kupang, pola ini kembali terlihat. Karena itu, saya menggunakan kata memilih. Sebab dalam negara demokrasi, seorang pemimpin sebenarnya tidak bisa sepenuhnya dikatakan menolak aspirasi rakyat. Ia hanya memilih untuk membuka ruang komunikasi atau sebaliknya, membiarkan ada jarak antara pemerintah dan massa aksi.

Jika Gubernur NTT, Melki Laka Lena, tidak menemui mahasiswa pada aksi jilid pertama maupun kedua, tentu itu adalah pilihan politik. Namun setiap pilihan selalu memiliki konsekuensi. Dan konsekuensi dari tertutupnya ruang dialog adalah meningkatnya ketegangan di lapangan.

Saya kira seorang gubernur tentu memahami hal itu. Apalagi bagi seorang pemimpin daerah, aksi mahasiswa bukan peristiwa baru yang asing untuk dibaca. Pemerintah pasti mengetahui bahwa ketika massa aksi yang datang dalam jumlah besar tidak dijumpai, rasa kecewa dan emosi kolektif akan tumbuh. Dalam situasi seperti itu, potensi bentrok sebenarnya sudah dapat diperkirakan sejak awal.

Artinya, bentrokan antara mahasiswa dan aparat tidak bisa semata-mata dilihat sebagai kekacauan spontan di lapangan. Ada sebab yang mendahuluinya. Ada komunikasi yang tidak dibangun. Ada ruang demokrasi yang tidak dibuka dengan baik. Sebab ketika pemimpin memilih tidak hadir menemui massa, maka aparat keamanan akhirnya ditempatkan sebagai wajah pertama yang berhadapan langsung dengan kemarahan mahasiswa.

Di titik itu, mahasiswa dan polisi sesungguhnya sama-sama berada dalam situasi yang rumit. Mahasiswa merasa aspirasi mereka diabaikan, sementara aparat harus berdiri menghadapi luapan emosi massa akibat absennya pemerintah. Ketika keadaan seperti ini dibiarkan, saling dorong, adu emosi, bahkan bentrokan fisik sering kali tinggal menunggu waktu.

Padahal situasi semacam ini sebenarnya bisa dicegah dengan langkah sederhana yakni hadir dan mendengarkan. Seorang gubernur tidak harus menyetujui seluruh tuntutan mahasiswa. Tidak juga harus langsung mengambil keputusan di tempat. Tetapi setidaknya ada keberanian politik untuk menemui massa aksi dan menunjukkan bahwa pemerintah masih bersedia mendengar suara rakyatnya sendiri.

Sebab demonstrasi mahasiswa bukan sekadar keramaian jalanan atau agenda mencari perhatian. Demonstrasi lahir ketika ada kegelisahan publik yang tidak lagi mendapatkan ruang yang cukup melalui jalur formal. Tuntutan yang dibawa mahasiswa juga bukan muncul dari ruang kosong. Di balik poster, teriakan, dan tuntutan, ada diskusi panjang, kajian, serta pembacaan terhadap realitas sosial yang sedang dihadapi masyarakat NTT.

Ketika mahasiswa memilih turun ke jalan, itu berarti mereka melihat ada persoalan yang dianggap serius dan mendesak. Persoalan tentang ketidakadilan sosial, pendidikan, kesehatan, kemiskinan, tambang, hingga nasib masyarakat kecil yang sering kali tidak memiliki akses langsung terhadap kekuasaan. Karena itu, apa yang diperjuangkan mahasiswa di tingkat provinsi sebenarnya juga mewakili keresahan masyarakat di banyak daerah di NTT.

Sebagai orang yang juga memahami dunia gerakan, saya percaya mahasiswa hari ini tidak turun ke jalan untuk mencari musuh. Mereka hadir karena merasa ada suara rakyat yang perlu diperjuangkan. Mereka mungkin keras dalam cara menyampaikan pendapat, tetapi itu lahir dari keyakinan bahwa demokrasi seharusnya memberi ruang bagi kritik dan perbedaan pendapat.

Karena itu, aksi jilid dua di Kupang seharusnya menjadi bahan refleksi bagi pemerintah daerah. Sebab munculnya aksi lanjutan menunjukkan bahwa persoalan sebelumnya tidak benar-benar diselesaikan melalui komunikasi yang sehat. Jika sejak awal gubernur bersedia membuka ruang dialog dan menemui massa aksi, maka kemungkinan besar ketegangan yang berujung bentrok antara polisi dan mahasiswa tidak perlu terjadi.

Demokrasi bukan hanya soal pemilu, jabatan, atau pidato tentang kemiskinan menurun. Demokrasi juga diuji dari kesediaan penguasa mendengar kritik, bahkan ketika kritik itu datang dengan suara keras dari jalanan. Jika ruang dialog ditutup oleh kekuasaan, jalan raya menjadi ruang pelampiasan kemarahan publik. Bentrokan akan menjadi hal yang pasti terjadi akibat dari dialog yang sengaja dipilih untuk dibiarkan gagal.***

  • Penulis: Ming
  • Editor: Ming

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gambar Ilustrasi. Seorang Calon Kepala Daerah yang sedang menjadikan agama sebagai Alat Politik (Johan Sogara/Lintas Sumba)

    3 Alasan Penting Menolak Calon Kepala Daerah yang Jadikan Agama Sebagai Alat Politik

    • calendar_month Minggu, 8 Sep 2024
    • account_circle Johan Sogara
    • 0Komentar

    LINTAS SUMBA – Menggunakan agama sebagai tameng politik adalah strategi yang sering kali digunakan oleh calon kepala daerah untuk menarik perhatian pemilih. Namun, pendekatan ini layak mendapat kritik tajam karena berpotensi membahayakan kesatuan dan toleransi masyarakat yang beragam. Pertama, memanfaatkan agama dalam politik bisa memicu polarisasi di masyarakat. Indonesia dikenal sebagai negara dengan beragam agama […]

  • Ilustrasi Sompo Indonesia

    Sompo Insurance Indonesia, Kasih Tips Memilih Perlindungan Kendaraan di Masa Kini 

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle Lintas Sumba
    • 0Komentar

    Lintas Sumba – Seiring semakin beragamnya jenis kendaraan di jalan, mulai dari jenis mesin berbahan bakar bensin/solar hingga kendaraan listrik, kebutuhan akan perlindungan atas kendaraan pun ikut berkembang. Perbedaan karakteristik, biaya perawatan, hingga potensi risiko dari masing-masing jenis kendaraan membuat pemilik perlu lebih cermat dalam menentukan perlindungan yang tepat, terutama dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan yang […]

  • Fr. Kanisius, BHK (kiri) dan Fr. Dismas, BHK (kanan) saat misa syukur 151 Tahun Kongregasi dan 40 Tahun membiara (Komsos Weetabula/Johan Sogara/Lintas Sumba)

    151 Tahun Kongregasi BHK dan 40 Tahun Membiara, Fr. Kanisius: Kerahiman Allah yang Menakjubkan

    • calendar_month Kamis, 15 Agt 2024
    • account_circle Johan Sogara
    • 0Komentar

    LINTAS SUMBA – Frater Bunda Hati Kudus (BHK) Weetabula, rayakan misa syukur untuk memperingati 151 tahun berdirinya Kongregasi BHK. Acara ini berlangsung di Kapela Komunitas BHK Weetabula, Kelurahan Weetabula, Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), pada Selasa, 13 Agustus 2024. Misa dipimpin oleh Rm. Evan, Pr., dengan homili inspiratif dari Romo Tibur, Pr., […]

  • Ternak Babi, Kesehatan Ternak

    Dijamin Bakal Gemuk! 8 Strategi Pemberian Pakan untuk Meningkatkan Kepuasan Ternak Babi

    • calendar_month Senin, 1 Apr 2024
    • account_circle Johan Sogara
    • 0Komentar

    LINTAS SUMBA – Pemberian makanan yang memadai dan menyediakan gizi yang cukup merupakan kunci utama dalam menjaga kesehatan dan pertumbuhan optimal ternak babi. Meningkatkan tingkat kenyang ternak babi secara cepat memerlukan perencanaan yang matang dalam hal pakan yang diberikan, frekuensi pemberian makanan, dan manajemen umum dalam peternakan babi. Berikut adalah beberapa strategi yang dapat membantu […]

  • Wakapolres SBD Kompol Jeffris Fanggidae (Kiri), didampingi Kasat Reskrim AKP I Ketut Rai Artika (Kanan), dalam Konferensi Pers di Ruang Rapat Tantya Sudhirajati terkait Kasus Penambangan Pasir Liar di Pesisir Pantai Mananga Aba (Johan Sogara/Lintas Sumba)

    15 Penambang Pasir Liar di Sumba Barat Daya Ditangkap Polisi, Begini Kronologinya!

    • calendar_month Jumat, 31 Jan 2025
    • account_circle Johan Sogara
    • 0Komentar

    LINTAS SUMBA – Sebanyak 15 orang pelaku penambangan pasir di pesisir Pantai Mananga Aba, Desa Karuni, Kecamatan Loura, berhasil diamankan polisi. Para pelaku tersebut diciduk Tim Satreskrim Polres Sumba Barat Daya (SBD), pada Rabu, 22 Januari 2025. Kasus ini terungkap usai Kapolres SBD mendapat laporan dari tiga tokoh masyarakat. Laporan tersebut kemudian langsung ditindaklanjuti dengan […]

  • Calon Gubernur Nusa Tenggara Timur, Ansy Lema, saat bertemu salah satu kelompok tani dan ikut membuat pestisida nabati (@ansi.lema/Instagram/Lintas Sumba)

    Ansy Lema Targetkan Kemajuan NTT Lewat Program Nyata untuk Nelayan, Tani dan Ternak

    • calendar_month Jumat, 20 Sep 2024
    • account_circle Johan Sogara
    • 0Komentar

    LINTAS SUMBA – Yohanis Fransiskus Lema, yang akrab disapa Kaka Ansy, telah menetapkan “Nelayan, Tani, dan Ternak” sebagai pilar utama dalam perjuangannya membangun Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebagai calon Gubernur NTT untuk periode 2024, Ansy menegaskan bahwa sektor-sektor fundamental ini tidak hanya menjadi slogan, tetapi juga diwujudkan melalui tindakan nyata selama masa jabatannya sebagai wakil […]

expand_less