Surat Kecil untuk Sang Pahlawan
- account_circle Lintas Sumba
- calendar_month Sabtu, 6 Sep 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

Gambar Ilustrasi. Seorang wanita sedang menulis surat untuk sang Pahlawan (Johan Sogara/Lintas Sumba)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
LINTAS SUMBA – Untukmu, nama yang beberapa hari terakhir ini terus menjadi perbincangan di meja makan keluarga kami, di meja-meja seluruh Indonesia, hingga di ruang-ruang publik.
Nama yang tak henti terdengar di telinga ini. Bukan karena engkau bagian dari para pendemo, bukan pula karena ikut menyelinap mengambil keuntungan dari peristiwa belakangan ini, apalagi termasuk mereka yang duduk di kursi DPR.
Engkau hanyalah seorang biasa, yang kebetulan memanggul tanggung jawab besar: menjadi pertahanan terdepan demi menjaga negara tercinta, termasuk melindungi orang-orang “besar” di dalamnya.
Aku tak pernah mengenalmu sebelumnya, sampai wajahmu memenuhi layar media sosial.
Berbagai opini muncul, pro maupun kontra, tentang peristiwa yang telah mengguncang hidupmu, juga mengguncang hati kami yang masih percaya pada kebenaran dan keadilan.
Aku hanyalah seorang simpatisan, yang hanya mampu menyampaikan rasa peduli lewat surat kecil ini.
Barangkali surat ini takkan pernah sampai padamu, tetapi aku ingin tetap berkata: aku bersyukur kepada Tuhan, karena menghadirkan seorang pahlawan lagi di Bumi Pertiwi.
Kehadiranmu menyadarkan banyak orang bahwa rasa kemanusiaan dan keadilan kita sedang terluka parah.
Untukmu, nama yang kini menjadi korban keegoisan dan tipu muslihat manusia. Semua yang engkau lakukan lahir dari ketaatan dan tanggung jawab atas perintah yang diberikan.
Namun hidup tampak sedang mengujimu jauh lebih keras daripada perjalanan panjang kariermu.
Diam-diam, aku menyelipkan namamu dalam setiap doa, agar Tuhan memberi kesabaran dan kekuatan yang lebih besar untukmu. Semoga luka Bumi Pertiwi segera pulih bersama doamu, doaku, dan doa kita semua.
Percayalah, pengorbanan, pengabdian, perjuangan, dan air matamu tak akan pernah sia-sia.
Semuanya akan tercatat dalam sejarah, menjadi pengingat bagi anak dan cucu kita. Bahwa jabatan bukan sekadar untuk dipegang, melainkan untuk dipangku.
Jabatan bukan sekadar mengeluarkan perintah, melainkan mengayomi. Jabatan bukan untuk meretakkan, melainkan untuk merangkul dengan cinta.
Untuk seorang Pahlawan, dari seseorang yang terus mendoakanmu.
- Penulis: Lintas Sumba

Saat ini belum ada komentar