Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Belis Budaya Perempuan Sumba dan Realitas Lainnya

Belis Budaya Perempuan Sumba dan Realitas Lainnya

  • account_circle Hans Wea
  • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Lintas sumbaBudaya belis yang berlangsung di Sumba adalah budaya dimana laki-laki harus memberikan sejumlah ekor hewan dan parang kepada keluarga dari perempuan. Sebagai tanggapan dari keluarga perempuan, mereka pun menyediakan kain sesuai dengan kebutuhan selama proses pernikahan adat berlangsung. Setelah laki-laki membereskan semua urusan pembelisan barulah perempuan itu menjadi miliknya.  Konsekuensi lebih lanjutnya adalah bahwa perempuan tidak boleh pulang ke keluarganya dan apapun yang dikerjakan oleh perempuan itu akan menjadi hak sepenuhnya dari keluarga laki-laki. Perempuan akan membantu keluarga orang tuanya bila suaminya mengizinkan.

Dalam urusan pembelisan, hewan yang biasa digunakan dan bahkan ‘harus’ adalah kerbau dan kuda. Sementara anjing, kambing, dan sapi dan hewan lainnya jarang digunakan ketika urusan pembelisan berlangsung. Babi juga digunakan dalam budaya belis Sumba, hanya saja hewan ini digunakan untuk acara makan. Babi akan mendapat posisi dimana ia dibutuhkan adalah ketika masuk pada tahap terakhir dalam urusan pernikahan secara adat, yakni sebagai hewan hidup yang diberikan oleh pihak keluarga perempuan kepada pihak laki. Atau hewan kurban (babi yang sudah dibunuh) yang diberikan oleh pihak keluarga perempuan kepada pihak laki-laki.

Kain-kain yang digunakan dalam urusan pernikahan secara adat di Sumba adalah kain-kain yang bermotif Sumba. Artinya tidak semua kain bisa digunakan dalam acara pernikahan adat Sumba dan itu pun sangat tergantung dengan daerah dimana pernikahan itu dilangsungkan di Sumba. Jika orang yang menikah adalah orang Sumba Timur, maka kain yang digunakan adalah kain-kain Sumba Timur dan demikian juga dengan daerah-daerah lain yang di Seluruh pulau Sumba. Sedangkan parang, hampir di seluruh pulau Sumba bentuk parangnya sama. Sehingga untuk pemberian parang tidak menjadi persoalan.

Bila dilihat dari segi ekonomi; pertama, harga hewan (khususnya kerbau dan kuda) berkisar dari angka 12 sampai 200 juta untuk satu ekor sebagaimana yang dialami oleh pengusaha kuda dan kerbau, Mohammad Wahyu Tripasetyo dan Lexi (Buletin iNews GTV, 2023; Menyusuri Oba Kami, Pasar Kerbau di Tana Humba | tempo.co, 2023).  Kedua, harga kain (dengan berbagai ukuran) paling murah di Sumba berada pada angka 2 juta, sementara yang paling mahal berada pada angka 11 juta ke atas (Harga Kain Tenun Sumba Asli 2026 | Tokotenun.com). Ketiga, harga parang asli Sumba yang paling murah adalah Rp. 150.000 dan yang paling mahal sekitar 1,5 juta. Poin yang ingin disampaikan akan dijelaskan lebih lanjut pada bagian “Realitas di balik budaya belis perempuan Sumba”.

Dalam melangsungkan pernikahan secara adat Sumba, setidaknya ada tiga tahap yang mesti dilewati: tahap pertama adalah wukke panewe (buka surat). Tahap ini biasa berisi tentang permintaan persetujuan orang tua perempuan, penetapan jumlah hewan dan parang yang harus dibawa oleh pihak laki-laki. Tahap kedua adalah kettena katonga (acara pernikahan dilangsungkan secara adat). Kekhasan khusus aspek ini adalah pihak laki-laki membawa sejumlah hewan dan parang yang telah menjadi kesepakatan di tahap satu. Bila jumlah belis yang disepakati tidak terpenuhi pada tahap ini, maka akan menjadi hutang pada tahap berikutnya. Tahap ketiga adalah padikkina minne (perempuan dipindahkan secara adat). Tahap ini berlangsung ketika pihak laki-laki telah melewati semua proses pembelisan. Misalnya, jumlah belis yang masih tunggak atau belum terpenuhi pada tahap kedua, kemudian pada tahap inilah semuanya dilunaskan. Bila belum dilunaskan, acara pindah perempuan secara adat pun belum bisa dilangsungkan. Tahap ini juga keluarga perempuan harus menyediakan semua keperluan rumah tangga (piring, sendok, tikar, tempat tidur, lemari, kasur,bantal, kursi, babi yang hidup dan mati, nasi yang sudah dimasak, periuk, wajan, untuk zaman sekarang ditambah dengan motor atau mobil, dll) yang akan dibawa serta oleh anak perempuan mereka menuju keluarga laki-laki.

Realitas di Balik Budaya Belis Sumba

Dalam usaha merefleksikan secara mendalam makna terdalam dari budaya Sumba, maka kurang lebih ditemukan dua realitas maknanya, yakni kontinu dan diskontinu. Posisi kontinyu dari budaya belis perempuan Sumba adalah bahwa budaya ini masih berlangsung sampai sekarang. Bahkan budaya ini sudah menjadi kekhasan masyarakat Sumba ketika berurusan dengan pernikahan. Yang mengalami posisi diskontinyu dari makna belis perempuan Sumba adalah nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Tiga nilai yang terkandung dalam budaya belis, sebagaimana diuraikan oleh Aggreni dan kawan-kawannya yang kemudian dikutip oleh Wara dan Purwiyastuti, adalah (a) metafisik, (b) fisik, (c) prestise atau sosial (Wara & Purwiyastuti, t.t., hlm. 76). Berhubungan dengan nilai metafisik, yang mau dijelaskan bahwa orang Sumba mau menjaga keseimbangan kosmos dan keserasian dalam kaitannya dengan urusan marapu. nilai pertama ini menekankan relasi orang yang masih hidup dan orang yang telah meninggal.

Ketika terjadi pernikahan secara adat, maka di sana ada dunia yang dihadirkan, yakni dunia orang mati dan orang hidup dari pihak perempuan dan pihak laki. Dua dunia inilah yang mesti diseimbangkan dengan budaya belis. Nilai kedua, menekankan relasi sosial atau hubungan kekeluargaan, saling tolong menolong, dan sekaligus menghargai serta melindungi pemberian dari kaum perempuan. Nilai ketiga, memberi makna bahwa keluarga pihak laki-laki bisa bertanggung jawab atas pemberian diri dari perempuan. Artinya, mereka bisa membelis perempuan yang mau menikah dengan anak laki-laki mereka.

Namun, nilai ketiga inilah yang menjadi titik dimana makna pembelisan perempuan Sumba menjadi bergeser atau mengalami sisi diskontinuitas dari segi makna. Nilai baru atau makna baru yang muncul adalah semakin mampu pihak laki-laki membayar belis, maka status sosial mereka dalam masyarakat menjadi semakin tinggi, dalam tanda petik mereka menjadi orang terpandang dalam masyarakat.

Realitas lain yang ditemukan dari budaya ini setidaknya ada tiga: pertama, kemiskinan struktural di Sumba. Dampak dari budaya belis yang paling nampak adalah realitas kemiskinan yang diwariskan orang tua kepada anak. Prosesnya kurang lebih seperti ini: pihak laki-laki berjuang sebisa mungkin untuk menutup belis dari calon istrinya. Jalan pintas yang seringkali digunakan oleh pihak laki-laki adalah berhutang kepada orang lain atau meminta bantuan dari kerabatnya demi bisa menutup tuntutan belis yang begitu banyak.

Misalnya, keluarga perempuan meminta hewan paling rendah sebanyak 10 ekor kuda dan 10 ekor kerbau, dan sejumlah kain serta parang. Harganya sudah disinggung pada bagian awal tulisan ini. Selain itu, fakta memperlihatkan bahwa masyarakat Sumba bukanlah kumpulan orang kaya atau kumpulan orang yang memiliki banyak hewan, tetapi terkadang mencari sesuap nasi saja untuk makan sehari perjuangannya sangat melelahkan.

Kembali pada poin kemiskinan struktural, laki-laki yang telah berhhutang banyak setelah menikah dia bersama istrinya harus berjuang untuk menutup kembali hutang bayar belis itu secara bersama-sama. Ketika dua orang itu tidak sanggup membayar belis itu, maka hutang mereka akan diwariskan kepada anak-anak mereka hingga hutang itu terbayar lunas.

Kedua, tekanan psikologi. Seringkali terjadi setelah proses pernikahan adat adalah keluarga baru harus berhadapan dengan penagih hutang belis yang kadang dalam seminggu datang satu kali, sebulan, atau dijanjikan dalam kurun waktu tahunan, tetapi dengan konsekuensi modal awal harus didobel dua kali ketika tiba waktu pembayarannya. Misalnya, awalnya 2 juta, maka ketika waktunya untuk mengembalikan harus dibayar menjadi 4 juta. Bagian ini sangat melelahkan bagi masyarakat Sumba sendiri, khususnya mereka yang berada pada level

kurang mampu. Bahkan ada orang yang memilih untuk bunuh diri ketika dia tidak lagi mampu membayar hutangnya.

Ketiga, perempuan sebagai komoditas. Mirisnya budaya belis di Sumba adalah anak perempuan dianggap sebagai komoditi yang bisa diperjual belikan. Dulu orang tua seringkali membawa anak perempuan mereka kepada orang kaya untuk dinikahi, biasanya ditawarkan kepada anak dari orang kaya yang bersangkutan. Bahkan kerap kali orang kaya mengambil perempuan yang ditawarkan kepadanya untuk menjadi istrinya sendiri, meskipun dari segi umur sangat berbeda jauh.

Akhir dari tulisan ini adalah bahwa budaya belis perempuan Sumba adalah sebuah fenomena budaya yang mengandung sisi positif dan sisi negatif. Sisi positif karena di balik budaya itu ada nilai luhur yang sedang diperjuangkan, yakni menghargai martabat kaum perempuan. Sementara sisi negatifnya adalah adanya efek kemiskinan struktural yang terbentuk, sesat pikir bahwa perempuan adalah komoditi, dan yang terakhir adalah tekanan psikologi yang justru bisa mengancam hidup seseorang.

Maka, melalui tulisan ini,  jalan yang bisa ditempuh untuk menghadapi realitas ini: pertama budaya tetap dipertahankan karena melalui budaya ini martabat perempuan dihargai dan dilindungi, tetapi praktek budaya belis ini mesti sadar dengan realitas-realitas lain yang bisa terjadi setelah mempelai laki-laki dan perempuan hidup sebagai satu rumah tangga. Di sini pihak perempuan menjadi penentu utama kesejahteraan anak mereka. Kalau mau menyiksa anak perempuan mereka dan mewariskan kemiskinan struktural serta ancaman nyawa, maka tidak masalah meminta belis dalam jumlah besar. Pesannya adalah kurangkan jumlah belis.

Kedua, mengadakan dialog kekeluarga antara pihak laki-laki dan perempuan secara jujur. Misalnya pihak laki-laki jujur dengan keadaan mereka pada keluarga perempuan. Pada ruang ini gengsi, kesombongan, kerinduan untuk mencari prestise mesti dihilangkan demi menyelamatkan diri jeratan kemiskinan struktural. Keluarga perempuan mesti membuka ruang pertimbangan moral yang berpihak kehidupan anak mereka di tangan laki-laki yang akan menjadi calon suaminya.

Poin yang utama ditempatkan paling depan adalah bahwa keluarga yang mau menikah mesti hidup sejahtera sebagai sebuah keluarga baru. Ketiga, mungkin baik juga bila orang tua tidak meminta belis kepada pihak laki-laki karena dengan begitu martabat perempuan justru semakin dijunjung tinggi. Tak hanya itu, anak perempuan mereka juga bisa menjalankan hidup kekeluargaan dalam suasana bebas dari tekanan hutang belis. Hanya saja bagian terakhir mungkin tidak hanya sebagai absurditas sebelum masyarakat Sumba belum menemukan atau memikirkan jalan lain bisa digunakan untuk mengganti budaya belis yang mengantisipasi dan menghidupakan nilai metafisik, fisik, dan prestise secara seimbang.

 

Penulis: Fr. Martinus Dendo Ngara, CSsR –

Mahasiswa Universitas Sanata Dharma –

Fakultas Teologi Wedabhakti.

 

 

  • Penulis: Hans Wea

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pj. Gubernur NTT Ayodhia Kalake saat memberika sambutan dalam kunjungannya ke Desa Papela, Rote Timur untuk menyerahkan bantuan ganti rugi kasus minyak Montara (TIM/Lintas Sumba)

    Pj. Gubernur NTT Serahkan Langsung Bantuan Ganti Rugi Tumpahan Minyak Montara di Desa Papela

    • calendar_month Senin, 15 Apr 2024
    • account_circle Johan Sogara
    • 0Komentar

    LINTAS SUMBA – Pemerintah Daerah (Pemda) Rote Ndao telah melaksanakan sosialisasi Lintas Batas bersama para Nelayan. Sosialisasi ini digelar untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman terkait bagaimana menjaga keamanan dan kedaulatan negara di wilayah perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Demikian disampaikan Penjabat (Pj) Bupati Rote Ndao Oder Maks Sombu saat menerima Kunjungan Kerja (Kunker) Pj. […]

  • Thomas Tanggu Dendo, Sekretaris Parta NasDem Sumba Barat Daya sekaligus Jubir Acara Keluarga (Johan Sogara/Lintas Sumba)

    Kunjungan Balik Keluarga Besar dr. Kornelius Kodi Mete ke Reda Mbolo, Jubir Perkirakan 10.000 Massa Hadir

    • calendar_month Minggu, 25 Agt 2024
    • account_circle Johan Sogara
    • 0Komentar

    LINTAS SUMBA – Hari ini, Keluarga Besar dr. Kornelius Kodi Mete dijadwalkan akan melakukan kunjungan resmi ke Reda Mbolo. Dalam kunjungan ini, dr. Kornelius akan didampingi oleh calon Wakil Bupati SBD Dominikus A. R. Kaka, yang akrab disapa Angga Kaka. Sekretaris Partai NasDem Thomas Tanggu Dendo, menjelaskan bahwa kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari beberapa […]

  • Ada Sumba Marapu

    Mengungkap Kekayaan Budaya Sumba: Sejarah Marapu

    • calendar_month Senin, 25 Mar 2024
    • account_circle Johan Sogara
    • 0Komentar

    LINTAS SUMBA – Sumba, sebuah pulau yang terletak di bagian timur Indonesia, bukan hanya terkenal dengan keindahan alamnya yang memukau, tetapi juga dengan kekayaan budaya yang memikat. Salah satu aspek yang sangat mencolok dari warisan budaya pulau ini adalah kepercayaan tradisional mereka yang dikenal sebagai Marapu. Asal Usul Marapu Marapu adalah sistem kepercayaan tradisional yang […]

  • Proses Perkawinan Tanaman

    Mengenal Lebih Dekat Proses Perkawinan Tanaman

    • calendar_month Kamis, 28 Mar 2024
    • account_circle Johan Sogara
    • 0Komentar

    LINTAS SUMBA – Proses perkawinan tanaman, yang secara ilmiah dikenal sebagai pembuahan atau polinasi, merupakan inti dari keberhasilan reproduksi dan kelangsungan hidup tumbuhan. Meskipun sering kali terjadi di alam tanpa kita sadari, namun proses ini merupakan dasar dari keanekaragaman hayati yang ada di sekitar kita. Mari kita telusuri lebih jauh tentang rahasia proses perkawinan tanaman […]

  • Foto Bersama Kapolres SBD AKBP Sigit Harimbawan bersama Jajaran Polres SBD (Johan Sogara/Lintas Sumba)

    Polres SBD Rayakan HUT Bhayangkara ke-78, Kapolda NTT Minta Jajaran Dukung Perekonomian Daerah

    • calendar_month Senin, 1 Jul 2024
    • account_circle Johan Sogara
    • 0Komentar

    LINTAS SUMBA – Polres Sumba Barat Daya (SBD), Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) merayakan puncak Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-78. Acara tersebut digelar di Mako Polres SBD, Desa Kadipada, Kecamatan Kota Tambolaka, pada Senin, 01 Juli 2024. Adapun tema HUT Bhayangkara kali ini yakni “Polri Presisi Mendukung Percepatan Transformasi Ekonomi yang Inklusif dan Berkelanjutan […]

  • Paguyuban Bali Sumba Barat Daya hadirkan ogoh-ogoh dalam Karnaval Budaya HUT RI ke-79 SBD (TIM/Lintas Sumba)

    Paguyuban Bali SBD Kembali Hadirkan Ogoh-Ogoh dalam Karnaval Budaya HUT RI ke-79 Sumba Barat Daya

    • calendar_month Jumat, 9 Agt 2024
    • account_circle Johan Sogara
    • 0Komentar

    LINTAS SUMBA – Karnaval Budaya dalam rangka memeriahkan HUT RI ke-79 di Sumba Barat Daya (SBD) berlangsung semarak. Kehadiran patung raksasa yang menyerupai Ogoh-ogoh, sebuah ikon kebudayaan Bali, turut memeriahkan acara itu. Arak-arakan ini digelar pada Jumat, 09 Agustus 2024, dengan rute dari SD Weekamburu hingga Alun-alun Kota Tambolaka. Salah satu peserta karnaval yang menarik […]

expand_less