LINTAS SUMBA – Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Tambolaka St. Agustinus, Ming Ghoghi, mendorong setiap kader membangun kompetisi positif untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan diri serta memperkuat persaudaraan dalam organisasi.
Hal tersebut disampaikan Ming saat menutup kegiatan Masa Penerimaan Anggota Baru (MPAB) PMKRI Cabang Tambolaka St. Agustinus periode 2026-2027 di Aula Kantor Camat Loura, Minggu, 11 Oktober 2026.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, sejak 9 hingga 11 Oktober 2026, tersebut berhasil menerima 24 mahasiswa sebagai anggota baru PMKRI Tambolaka.
Mengusung tema “Dipanggil untuk Menjadi Kader PMKRI yang Berintelektual, Beriman, dan Menjadi Keluarga”, MPAB menjadi tahap awal bagi mahasiswa untuk mengenal organisasi dan memahami dasar-dasar kaderisasi PMKRI.
Ming mengatakan kompetisi positif antarkader diperlukan untuk menumbuhkan semangat belajar, memperluas pengetahuan, dan mendorong setiap anggota mengembangkan kemampuannya.
“Di dalam organisasi harus ada kompetisi positif antarsesama anggota. Hal ini penting agar teman-teman terdorong untuk terus belajar dan membuktikan kemampuan diri kepada sesama kader. Ketika satu kader menunjukkan kemampuannya, kader yang lain juga akan tertantang untuk belajar lebih banyak, termasuk melalui kegiatan membaca.
Tanpa kemauan untuk terus belajar, kita akan menjadi kader PMKRI yang kosong. Ketika menghadapi tantangan, kita tidak memiliki bekal pengetahuan yang cukup untuk menghadapinya,” kata Ming.
Menurut Ming, menjadi anggota PMKRI tidak cukup hanya dengan mengikuti kegiatan organisasi. Setiap kader harus memiliki kemauan untuk terus belajar, memperkuat iman, dan membangun integritas agar mampu menghadapi berbagai tantangan, baik di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat.
Ia juga mengingatkan anggota baru agar tidak menjadikan kompetisi sebagai alasan untuk saling menjatuhkan. Sebaliknya, persaingan harus menjadi dorongan untuk bertumbuh bersama tanpa mengabaikan nilai persaudaraan.
“Adik-adik, kita semua adalah saudara. Kita berasal dari latar belakang yang berbeda, tetapi kini kita telah menjadi satu keluarga dalam rumah PMKRI Tambolaka. Mari kita saling menyayangi. Jangan menjadikan perbedaan pendapat sebagai alasan untuk terpecah. Perbedaan pendapat itu wajar bagi seorang pemikir. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya dengan bijaksana tanpa merusak persaudaraan,” ujarnya.
Ming berharap, anggota baru tidak berhenti belajar setelah mengikuti MPAB, tetapi terus aktif dalam proses kaderisasi, mengembangkan kemampuan intelektual, dan membangun solidaritas sebagai sesama anggota PMKRI.
Melalui kegiatan tersebut, PMKRI Tambolaka juga mendorong anggota baru untuk mengambil bagian dalam berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat sebagai wujud pengabdian kepada gereja dan tanah air.
Sementara itu, salah satu peserta yang diterima sebagai anggota muda PMKRI Tambolaka, Irna, mengaku bersyukur dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan MPAB. Menurutnya, PMKRI memberikan ruang pembelajaran yang melengkapi pengetahuan yang diperoleh di bangku perkuliahan.
“Saya sangat bersyukur karena materi yang tidak kami dapatkan di kampus bisa saya peroleh melalui organisasi PMKRI. Kami juga telah diperkenalkan dengan tiga benang merah PMKRI, yakni Kristianitas, Intelektualitas, dan Fraternitas,” kata Irna, yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Mahasiswa Sumba Tengah (Ikmasteng).
Irna berharap, anggota muda yang telah diterima tidak berhenti berproses setelah MPAB, tetapi terus aktif dalam kegiatan organisasi dan mengambil bagian dalam perjuangan untuk gereja dan tanah air.
“Harapan saya ke depan, semoga anggota muda yang telah diterima tidak berhenti di MPAB saja, tetapi terus aktif berproses dan berkontribusi untuk gereja dan tanah air. Semoga kita menjadi kader-kader yang militan dan fraternal. Pro Ecclesia et Patria,” ungkapnya.***


Tinggalkan Balasan