Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Demisioner Bukan Akhir Pengabdian: Saat Jabatan Berakhir, Apakah Perjuangan Juga Selesai?

Demisioner Bukan Akhir Pengabdian: Saat Jabatan Berakhir, Apakah Perjuangan Juga Selesai?

  • account_circle Fian Tamo
  • calendar_month 18 jam yang lalu
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

LINTASSUMBA.COM – Demisioner sering dipahami sekadar sebagai berakhirnya masa jabatan dalam sebuah organisasi. Setelah kepengurusan selesai, maka selesai pula tanggung jawab dan ruang pengabdian. Cara pandang seperti ini membuat jabatan dianggap sebagai pusat perjuangan, bukan alat untuk bekerja dan melayani.

Padahal, dalam perspektif yang lebih luas, demisioner justru menjadi titik refleksi sekaligus awal dari tantangan baru. Di fase inilah seseorang diuji: apakah tetap setia pada nilai perjuangan atau justru berhenti ketika kehilangan posisi struktural.

Gagasan Marhaenisme yang diperkenalkan Soekarno menempatkan keberpihakan kepada rakyat kecil sebagai inti perjuangan. Kaum marhaen dipahami sebagai mereka yang hidup dalam keterbatasan namun tetap mandiri. Karena itu, Marhaenisme bukan hanya berbicara tentang ekonomi, tetapi juga tentang kesadaran, keberanian, dan kemandirian berpikir di tengah perubahan zaman.

Dalam konteks demisioner, nilai tersebut menjadi relevan. Berakhirnya jabatan bukan berarti berakhir pula kontribusi. Yang berubah hanyalah bentuk pengabdian. Seseorang mungkin tidak lagi memiliki panggung formal, tetapi bukan berarti kehilangan tanggung jawab moral terhadap organisasi maupun masyarakat.

Fenomena yang sering terjadi justru sebaliknya. Banyak orang mengalami “kekosongan peran” setelah demisioner. Ketika tidak lagi memegang jabatan, mereka merasa tidak memiliki ruang untuk berbuat. Ada pula yang masih ingin mempertahankan pengaruh secara terselubung karena belum siap kehilangan posisi. Situasi ini menunjukkan bahwa jabatan masih dipandang sebagai sumber utama kekuatan.

Padahal, Marhaenisme mengajarkan bahwa kekuatan sejati terletak pada kesadaran dan keberpihakan, bukan pada kursi kekuasaan. Mantan pengurus tetap memiliki tanggung jawab untuk mendampingi generasi penerus, memberi kritik secara sehat, serta menjaga arah perjuangan organisasi agar tidak kehilangan idealisme.

Demisioner juga menjadi ujian bagi kedewasaan organisasi. Apakah estafet kepemimpinan berjalan sehat dan demokratis, atau justru diwarnai konflik dan ego sektoral. Dalam semangat Marhaenisme, kepemimpinan bukan alat dominasi, melainkan sarana pemberdayaan dan kaderisasi.

Tantangan lain yang tidak kalah besar adalah pragmatisme. Tidak sedikit yang setelah demisioner memilih menjauh dari idealisme dan lebih fokus pada kepentingan pribadi. Perjuangan dianggap selesai ketika masa jabatan berakhir. Padahal, perjuangan sosial tidak pernah dibatasi oleh periode kepengurusan. Justru di luar struktur formal, seseorang sering memiliki ruang yang lebih bebas untuk berinovasi dan memberi dampak.

Karena itu, demisioner seharusnya dipahami sebagai transformasi, bukan terminasi. Fase ini menjadi kesempatan untuk membuktikan bahwa pengabdian sejati tidak bergantung pada atribut kekuasaan. Jabatan boleh berakhir, tetapi nilai perjuangan harus tetap hidup.

Pada akhirnya, relevansi Marhaenisme dalam konteks demisioner terletak pada kemampuannya mengembalikan orientasi perjuangan: dari jabatan menuju pengabdian, dari kekuasaan menuju keberpihakan. Sebab sejatinya, seorang pejuang tidak pernah benar-benar demisioner. Ia hanya berpindah medan juang.***

  • Penulis: Fian Tamo
  • Editor: Kobus Tena

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gambar Ilustrasi. Korban dugaan TPPO lompat dari kapal (Johan Sogara/Lintas Sumba)

    Alami Eksploitasi, Korban Dugaan TPPO Nekat Lompat dari Kapal Rusia di Kepulauan Aru

    • calendar_month Jumat, 23 Agt 2024
    • account_circle Johan Sogara
    • 0Komentar

    LINTAS SUMBA – Seorang pekerja berinisial MS, yang diduga menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), mengaku nekat melompat dari kapal berbendera Rusia, Run Zeng 03, di perairan Kepulauan Aru. Aksi ini dilakukan karena MS merasa dieksploitasi selama bekerja di kapal tersebut. Pengakuan MS diungkapkan saat ia menjalani pemeriksaan kedua atas laporan dugaan TPPO di […]

  • Calon Bupati dan Wakil Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Wulla Talu dan Angga Kaka, saat peresmian posko pemenangan di Wee Londa (Johan Sogara/Lintas Sumba)

    Ratu Wulla dan Angga Kaka Resmikan 2 Posko di Wee Londa, Tokoh Masyarakat: Sudah Banyak Jasa!

    • calendar_month Minggu, 29 Sep 2024
    • account_circle Johan Sogara
    • 0Komentar

    LINTAS SUMBA – Pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Sumba Barat Daya (SBD), Ratu Wulla Talu dan Dominikus A. R. Kaka (Angga), meresmikan dua posko pemenangan di Desa Wee Londa, Kecamatan Kota Tambolaka, pada Jumat, 27 September 2024. Kedatangan Paket Ratu-Angga ini disambut meriah oleh pendukung dan relawan dengan arak-arakan serta tarian adat khas yang […]

  • 8 Langkah Mengatasi Virus ASF pada Ternak Babi

    8 Langkah Mengatasi Virus ASF pada Ternak Babi

    • calendar_month Sabtu, 6 Apr 2024
    • account_circle Johan Sogara
    • 0Komentar

    LINTAS SUMBA – Virus African Swine Fever (ASF) merupakan ancaman serius bagi industri babi di berbagai belahan dunia. ASF tidak hanya mengakibatkan kematian massal pada ternak babi, tetapi juga berdampak ekonomi yang besar bagi peternak dan industri terkait. Namun, dengan langkah-langkah pencegahan yang tepat, serta tindakan pengendalian yang efektif, kita dapat mengatasi penyebaran ASF dan […]

  • P. Silvester Leo, SVD., saat mengukuhkan Dewan Pengurus Paguyuban Belu-Malaka Sumba Barat Daya (Johan Sogara/Lintas Sumba)

    Dewan Pengurus Paguyuban Belu-Malaka Sumba Barat Daya Resmi Dikukuhkan

    • calendar_month Minggu, 11 Agt 2024
    • account_circle Johan Sogara
    • 0Komentar

    LINTAS SUMBA – Dewan Pengurus Paguyuban Belu-Malaka Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) resmi dikukuhkan. Acara pengukuhan tersebut berlangsung di Kota Tambolaka, Kabupaten SBD, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Minggu, 11 Agustus 2024. Dewan Pengurus Paguyuban Belu-Malaka yang dilantik kali ini, untuk masa bakti 2024-2027. Prosesi pengukuhan dilakukan dalam sebuah misa yang dipimpin oleh Pater […]

  • Perkuat Ekonomi Negara, Forum Business dan Business Matching Pengusaha Muda NTT dan Republik Demokratik Timor Leste resmi dibuka

    Forum Business dan Business Matching Pengusaha Muda NTT dan Timor Leste Resmi Dibuka, Ayodhia Kalake: Perkuat Ekonomi Negara

    • calendar_month Rabu, 20 Mar 2024
    • account_circle Johan Sogara
    • 0Komentar

    LINTAS SUMBA – Salah satu kesepakatan dalam Pertemuan antara Presiden RI Joko Widodo dan Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao di Istana Kepresidenan Bogor pada Tanggal 26 Januari 2024 lalu adalah peningkatan kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Timor Leste. Demikian disampaikan Penjabat (Pj) Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Ayodhia Kalake, saat membuka Forum Business […]

  • Polda NTT Ringkus Otak Penyelundupan WNA Bangladesh yang Sempat Lari ke Bali

    Polda NTT Ringkus Otak Penyelundupan WNA Bangladesh yang Sempat Lari ke Bali

    • calendar_month Sabtu, 1 Feb 2025
    • account_circle Johan Sogara
    • 0Komentar

    LINTAS SUMBA – Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) berhasil menangkap PT alias Panji (39), dalang di balik penyelundupan 15 warga negara asing (WNA) asal Bangladesh. Buronan ini ditangkap di Kabupaten Karangasem, Bali, pada Kamis, 30 Januari 2025, setelah sempat melarikan diri. Kabidhumas Polda NTT Kombes Henry Novika Chandra mengungkapkan bahwa […]

expand_less