Lintas Sumba – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Tambolaka St. Agustinus melatih calon anggota baru untuk mengasah kemampuan berorasi dan menyampaikan pendapat di hadapan publik melalui kegiatan olah vokal.
Dalam kegiatan tersebut, calon anggota baru dibagi ke dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok diberikan isu sosial untuk dipelajari, didiskusikan, dan dianalisis sebelum disampaikan melalui simulasi aksi demonstrasi.
Sejumlah isu yang diangkat meliputi kekerasan terhadap perempuan dan anak, perdagangan orang (human trafficking), persoalan lingkungan hidup, krisis bahan bakar minyak (BBM), serta hak-hak masyarakat adat.
Setelah mendalami isu masing-masing, setiap kelompok menyampaikan hasil pembahasannya melalui simulasi demonstrasi. Dalam praktik tersebut, calon anggota baru berlatih menyampaikan tuntutan, membangun argumentasi, dan mengemukakan pendapat berdasarkan persoalan yang telah dikaji.
Salah satu isu yang mendapat perhatian dalam simulasi tersebut adalah kekerasan seksual terhadap anak. Persoalan ini berkaitan dengan perlindungan hak anak yang menjadi tanggung jawab bersama, baik masyarakat maupun pemerintah.
Secara hukum, perlindungan terhadap perempuan dan anak telah diatur dalam sejumlah peraturan perundang-undangan.
Misalnya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS), yang mengatur pencegahan, penanganan, pelindungan, dan pemulihan hak korban.
Kegiatan olah vokal tersebut berlangsung di Aula Kantor Camat Loura pada 30 Oktober – 1 November 2026.
Ketua Presidium PMKRI Cabang Tambolaka St. Agustinus, Dominggus Ghoghi, mengatakan latihan tersebut bertujuan membentuk calon anggota yang tidak hanya memiliki keberanian berbicara, tetapi juga mampu memahami dan menganalisis persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Melalui latihan ini, kami ingin membentuk calon anggota yang tidak hanya berani berbicara, tetapi juga mampu memahami persoalan yang sedang dihadapi masyarakat. Seorang kader PMKRI harus memiliki keberanian menyampaikan kebenaran, menyusun argumentasi, dan berpihak kepada mereka yang hak-haknya diabaikan. Sebab, demonstrasi bukan sekadar tentang siapa yang paling lantang berteriak, melainkan tentang seberapa kuat pengetahuan dan alasan di balik aspirasi yang disampaikan,” ujarnya.
Ia menegaskan, kemampuan berorasi harus ditopang oleh pengetahuan dan pemahaman terhadap persoalan. Karena itu, latihan olah vokal tidak hanya diarahkan pada penguasaan teknik berbicara, tetapi juga kemampuan kader dalam membaca realitas sosial dan menyampaikan aspirasi secara bertanggung jawab.
Kaderisasi PMKRI Cabang Tambolaka mempersiapkan anggota yang memiliki kapasitas intelektual, keberanian menyampaikan pendapat, serta kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan dan kehidupan masyarakat.***


Tinggalkan Balasan