Lintas Sumba – Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Tambolaka St. Agustinus resmi menutup kegiatan Masa Penerimaan Anggota Baru (MPAB) ke-2 yang berlangsung selama tiga hari, 30 Oktober hingga 1 November 2026, di Aula Kantor Camat Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya.

Kegiatan tersebut mengusung tema “Membentuk Kader PMKRI dengan Berlandaskan Kristianitas, Intelektualitas, dan Fraternitas.”

Keberhasilan pelaksanaan MPAB ke-2 tidak terlepas dari kerja sama dan kontribusi seluruh panitia. Semangat persaudaraan ditunjukkan sejak persiapan hingga berakhirnya kegiatan.

Ketua Panitia MPAB, Leonardus Japa Kangga, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia dan pihak-pihak yang telah membantu menyukseskan kegiatan tersebut.

Leonardus juga berpesan agar anggota muda tetap bersemangat dan tabah dalam menjalani proses kaderisasi di PMKRI. Setelah mengikuti MPAB, para anggota muda diharapkan terus mempersiapkan diri untuk mengikuti Masa Bimbingan (MABIM) sebelum menjadi anggota penuh PMKRI.

Sementara itu, Ketua Presidium PMKRI Cabang Tambolaka, Dominggus Ghoghi atau akrab disapa Ming, menekankan pentingnya membangun intelektualitas melalui kebiasaan membaca dan kemauan untuk terus belajar.

Menurutnya, menjadi anggota PMKRI tidak secara otomatis membuat seseorang menjadi hebat atau memiliki pengetahuan yang luas. Hal tersebut harus dibangun melalui proses belajar, membaca buku, berdiskusi, dan kerja keras.

“Adik-adik anggota muda, menjadi anggota PMKRI tidak secara otomatis menjadikan kita hebat atau memiliki pengetahuan yang luas. Intelektualitas seorang kader dimulai dari kebiasaan membaca buku dan kemauan untuk terus belajar. Tidak ada perubahan tanpa kerja keras dan kesungguhan dalam berproses,” ungkap Ming.

Selain intelektualitas, Ming juga mengingatkan pentingnya menjaga nilai persaudaraan atau fraternitas dalam kehidupan berorganisasi. Ia meminta seluruh anggota muda agar tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menjatuhkan.

“Di dalam perhimpunan ini, kita bukan sekadar teman organisasi, tetapi sudah menjadi keluarga dan saudara. Karena itu, jangan saling menjatuhkan atau menyimpan permusuhan. Jika ada persoalan, mari kita selesaikan dengan baik dan damai. Kalau ada saudara kita yang tidak hadir atau sudah lama tidak terlihat, tanyakan kabarnya. Kita harus saling memperhatikan dan mengasihi,” tegasnya.

Ia juga menegaskan bahwa PMKRI merupakan rumah bersama bagi setiap kader yang memiliki latar belakang dan karakter berbeda. Perbedaan tersebut menjadi kekuatan untuk saling melengkapi, bukan menjadi alasan untuk membangun sekat di dalam perhimpunan.

“Kita boleh berbeda pendapat, berbeda karakter, bahkan berbeda latar belakang, tetapi di dalam PMKRI kita semua bersaudara. Jangan hanya hadir ketika ada kegiatan, tetapi bangunlah kepedulian satu sama lain. Mari kita menjaga rumah ini dengan kasih, kesabaran, dan tanggung jawab,” tambahnya.

Menutup sambutannya, Ming mengajak seluruh anggota muda agar tidak berhenti pada kegiatan MPAB, tetapi terus berkomitmen mengikuti setiap tahapan kaderisasi. Baginya, proses menjadi kader PMKRI membutuhkan kesungguhan, kedisiplinan, dan kemauan untuk bertumbuh bersama.

Ia berharap para anggota muda dapat menghidupi tiga nilai dasar PMKRI, yakni Kristianitas, Intelektualitas, dan Fraternitas, baik dalam kehidupan organisasi maupun di tengah masyarakat.

Selama kegiatan berlangsung, para anggota muda mengikuti setiap rangkaian MPAB dengan penuh semangat dan antusiasme.

Mereka menunjukkan sikap proaktif dalam mengikuti materi, berdiskusi, serta belajar memahami nilai-nilai dasar PMKRI sebagai bekal dalam menjalani proses kaderisasi selanjutnya.***