Perkuat Layanan Kesehatan Ibu dan Anak, Tim Pengabdian Masyarakat Revitalisasi Posyandu Tandening di Sumba Timur
- account_circle Johan Sogara
- calendar_month Jumat, 28 Agt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Anna Henny Talahatu, Tim PkM, saat revitalisasi Posyandu Tandening di Desa Kaliuda, Kecamatan Pahunga Lodu, Kabupaten Sumba Timur (Johan Sogara/Lintas Sumba)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Selain cakupan ANC, tim juga menemukan keterbatasan kapasitas kader dalam melakukan deteksi dini risiko kehamilan, pemantauan tumbuh kembang balita, serta pencatatan dan pelaporan kegiatan Posyandu.
Sarana pendukung seperti alat antropometri dan media edukasi kesehatan juga masih terbatas. Di sejumlah dusun, partisipasi masyarakat dalam kegiatan Posyandu belum optimal.
Untuk menjawab berbagai persoalan tersebut, program revitalisasi dilaksanakan melalui lima ranah intervensi.
Pertama, revitalisasi sarana dan prasarana Posyandu melalui pengadaan sejumlah peralatan kesehatan, seperti tensimeter digital, timbangan bayi digital dan pita LILA, serta penataan layanan berdasarkan standar lima meja Posyandu.
Kedua, peningkatan kapasitas delapan kader melalui pelatihan teknis. Materi pelatihan mencakup pengukuran antropometri, deteksi masalah gizi, konseling ANC, tanda bahaya kehamilan, hingga pencatatan dan pengelolaan data kohort.
Ketiga, peningkatan cakupan ANC berbasis komunitas melalui penyuluhan kepada ibu hamil dan keluarga, kunjungan rumah oleh kader, serta pelaksanaan Kelas Ibu Hamil.

Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) saat revitalisasi Posyandu Tandening di Desa Kaliuda, Kecamatan Pahunga Lodu, Kabupaten Sumba Timur (Johan Sogara/Lintas Sumba)
“Pendekatannya kami buat sedekat mungkin dengan masyarakat. Tidak hanya menunggu ibu datang ke Posyandu, tetapi kader juga didorong untuk melakukan pendampingan dan kunjungan rumah,” ujar Anna.
Kelas Ibu Hamil dilaksanakan sebanyak empat kali dengan materi antara lain gizi selama kehamilan, senam hamil, persiapan persalinan dan berbagai hal yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan bayi.
Keempat, tim memperkuat sistem pencatatan melalui penggunaan sistem digital sederhana, termasuk pencatatan kohort serta pemetaan ibu hamil dan balita yang memiliki risiko tinggi.
Kelima, edukasi kesehatan dikembangkan dengan memanfaatkan pendekatan budaya lokal Sumba. Tokoh adat dan tokoh agama dilibatkan sebagai bagian dari upaya mendorong perubahan perilaku masyarakat.
Anna juga menegaskan, bahwa program tersebut tidak dirancang secara sepihak oleh tim pengabdian. Kader Posyandu, bidan desa, pemerintah desa, kepala dusun dan masyarakat dilibatkan dalam mengidentifikasi persoalan serta menentukan bentuk intervensi yang dibutuhkan.
“Solusi tidak kami tentukan sendiri. Kami menyusun program berdasarkan kebutuhan yang ditemukan bersama kader, bidan desa, pemerintah desa, kepala dusun dan perwakilan ibu hamil,” tegasnya.
- Penulis: Johan Sogara
- Editor: Lintas Sumba



Saat ini belum ada komentar