7 Makanan Khas NTT yang Wajib Dicoba, dari Se’i Babi hingga Muku Loto
- account_circle Johan Sogara
- calendar_month 4 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Se'i Babi Losba, salah satu kuliner yang paling dikenal dari NTT (Johan Sogara/Lintas Sumba)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
4. Kolo
Beralih ke Pulau Flores, masyarakat Manggarai memiliki kolo, yang juga dikenal sebagai nasi bambu.
Kolo dibuat dari beras yang dicampur dengan kelapa parut, cabai dan rempah-rempah, kemudian dimasak menggunakan batang bambu. Cara memasak tersebut memberikan aroma serta cita rasa khas pada nasi.
Kolo bukan hanya makanan sehari-hari. Hidangan ini juga memiliki hubungan erat dengan tradisi masyarakat Manggarai dan kerap dihidangkan dalam berbagai ritus adat, termasuk syukuran hasil panen dan penyambutan tamu.
5. Rumpu Rampe
Rumpu rampe merupakan masakan tradisional NTT yang menggunakan daun dan bunga pepaya sebagai bahan utama.
Bahan tersebut dimasak bersama bawang, cabai dan bumbu lainnya. Rasa pahit dari daun dan bunga pepaya menjadi karakter tersendiri dari hidangan ini.
Rumpu rampe biasanya disantap sebagai lauk pendamping nasi dan dapat dinikmati bersama ikan bakar maupun olahan daging.
Bagi pencinta kuliner tradisional, rasa pahit yang menjadi ciri khas rumpu rampe justru memberikan pengalaman berbeda dibandingkan sayuran pada umumnya.
6. Jagung Titi
Jagung titi merupakan salah satu makanan yang sangat lekat dengan masyarakat Lamaholot.
Makanan ini dibuat dari biji jagung yang dipipihkan secara tradisional hingga menghasilkan bentuk tipis dan renyah. Jagung titi dikenal sebagai camilan, tetapi bagi masyarakat di Flores Timur, Adonara, Solor, Lembata dan Alor Pantar, makanan ini memiliki nilai budaya yang lebih luas.
Jagung titi biasanya memiliki rasa gurih meskipun tidak selalu membutuhkan banyak bumbu. Cara pembuatannya yang masih dilakukan secara tradisional membuat makanan ini semakin menarik untuk dikenalkan kepada wisatawan.
7. Muku Loto
Muku Loto merupakan makanan khas masyarakat Nagekeo, Flores.
Nama Muku Loto berasal dari bahasa lokal. Muku berarti pisang, sedangkan loto berarti hancur. Hidangan ini dibuat menggunakan pisang muda, batang pisang dan daging, baik daging sapi maupun babi.
Muku Loto telah diwariskan sejak zaman nenek moyang dan biasanya dihidangkan dalam acara adat maupun pesta besar masyarakat Nagekeo. Hidangan ini umumnya disantap bersama nasi sebagai lauk.
Keberadaan Muku Loto menunjukkan bahwa kekayaan kuliner NTT tidak hanya terletak pada rasa, tetapi juga pada hubungan makanan dengan tradisi masyarakat.
- Penulis: Johan Sogara
- Editor: Lintas Sumba



Saat ini belum ada komentar