Asap hitam sempat terlihat pada pagi hari, sebelum akhirnya putih mengepul di petang hari yang cerah di Roma.

Nama “Leo” yang dipilihnya merujuk pada dua pendahulu yang berpengaruh: Paus Leo I yang dijuluki “Agung” karena jasanya dalam menyelamatkan Roma, dan Leo XIII yang menulis ensiklik Rerum Novarum tentang hak-hak pekerja.

Pilihan nama itu bukan isyarat nostalgia, melainkan pernyataan arah.

“Gereja harus menjadi rumah yang menyambut semua orang,” ujar Paus Leo XIV dalam pidato perdananya.

Paus Leo XIV berbicara dengan suara tenang namun tegas, menyentuh isu-isu modern: pengungsi, kemiskinan, dan perdamaian dunia.***