Di Balik Meriahnya Pesta Adat, Ada Mimpi Anak yang Tertunda
- account_circle Yakobus Lero bulu
- calendar_month 13 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Oleh: Yakobus Lero Bulu Program Studi: PBI Semester: VI Kampus: Universitas Katolik Weetebula
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
LINTASSUMBA.COM – Suara tambur dan gong menggema. Tenda-tenda berdiri. Tamu berdatangan. Hewan ternak disembelih. Bagi masyarakat Sumba, suasana seperti ini merupakan bagian dari tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Tradisi adalah identitas. Ia mengandung penghormatan kepada leluhur, mempererat hubungan kekeluargaan, dan menjadi simbol kebersamaan dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, tradisi patut dijaga dan dilestarikan.
Namun, persoalan muncul ketika tradisi bergeser dari makna aslinya. Yang semula menjadi ruang kebersamaan perlahan berubah menjadi arena gengsi sosial. Ukuran keberhasilan sebuah acara adat tidak lagi dilihat dari nilai kekeluargaan yang dibangun, melainkan dari banyaknya hewan yang dipotong, besarnya biaya yang dikeluarkan, atau ramainya tamu yang hadir.
Di sinilah tradisi mulai kehilangan ruhnya.
Tidak sedikit keluarga yang rela menjual ternak, menggadaikan tanah, bahkan berutang demi menyelenggarakan pesta adat yang dianggap pantas di mata masyarakat. Yang lebih memprihatinkan, biaya pendidikan anak sering kali ikut terseret menjadi korban.
Setelah pesta usai dan para tamu pulang, keluarga harus menghadapi kenyataan yang berbeda. Utang menumpuk, ekonomi melemah, dan anak-anak terancam kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan.
Pertanyaannya sederhana: apakah menjaga gengsi lebih penting daripada menjaga masa depan anak?
Pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang menentukan masa depan sebuah keluarga. Sementara pesta adat, semegah apa pun, hanya berlangsung beberapa hari. Jika dana pendidikan habis demi sebuah perayaan, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar uang, melainkan masa depan generasi berikutnya.
Masalahnya bukan pada tradisi. Yang perlu dikritisi adalah cara sebagian masyarakat memaknainya. Tradisi leluhur tidak pernah mengajarkan kesombongan. Nilai utama yang diwariskan adalah kebersamaan, saling membantu, dan saling menghormati.
Karena itu, menghormati adat tidak harus identik dengan kemewahan. Martabat sebuah keluarga tidak diukur dari jumlah hewan yang disembelih atau besarnya biaya yang dihabiskan. Martabat sejati terlihat dari kemampuan keluarga menyiapkan masa depan anak-anaknya.
Di balik kemeriahan pesta adat, sering kali ada cerita yang tidak terdengar. Ada anak yang menunda kuliah karena biaya tidak tersedia. Ada keluarga yang bertahun-tahun membayar utang. Ada mimpi yang perlahan padam karena kalah oleh tuntutan untuk terlihat terhormat.
Padahal, anak yang berhasil menyelesaikan pendidikan dan mengangkat martabat keluarganya merupakan bentuk penghormatan paling nyata kepada leluhur. Sebab generasi yang terdidik adalah mereka yang kelak akan menjaga dan melanjutkan tradisi itu sendiri.
Pada akhirnya, tambur dan gong akan berhenti berbunyi. Tenda-tenda akan dibongkar. Para tamu akan pulang. Namun dampak dari keputusan yang diambil hari ini bisa menentukan masa depan seorang anak seumur hidup.
Tradisi harus tetap hidup. Tetapi jangan sampai tradisi dijalankan dengan cara yang justru mematikan harapan generasi penerus. Sebab adat yang kuat bukanlah adat yang mengorbankan masa depan anak, melainkan adat yang memberi ruang bagi mereka untuk tumbuh, belajar, dan melanjutkan warisan leluhur dengan lebih baik.***
- Penulis: Yakobus Lero bulu
- Editor: Kobus Tena








Saat ini belum ada komentar