kendala harga, kematian ayam, dan pasar jadi tantangan, ketua BUMDes sebut tidak sesuai RAB
- account_circle Kobus Tena
- calendar_month 11 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ketua BUMDes Desa Pada Eweta, Daud Bobo, menjelaskan kendala usaha peternakan ayam yang meliputi ketidaksesuaian RAB, tingginya tingkat kematian anakan ayam, dan terbatasnya serapan pasar. (Lintassumba.com/Kobus Tena)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
LINTASSUMBA.COM – Ketua BUMDes Desa Pada Eweta, Daud Bobo, menyebut sejumlah kendala masih menghambat pengembangan usaha peternakan ayam yang dikelola Badan Usaha Milik Desa tersebut.
Daud menyebutkan, persoalan utama terletak pada selisih antara Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan harga pasar di lapangan. Kondisi ini membuat pelaksanaan pembelanjaan bahan produksi harus dilakukan dengan penyesuaian ketat agar usaha tetap berjalan.
“Kami sering menghadapi harga di RAB yang lebih rendah dibanding harga di pasar. Ini membuat kami harus mencari cara agar kegiatan usaha tetap bisa berjalan,” ujarnya.
Selain itu, tingkat kematian pada anakan ayam juga menjadi kendala serius dalam proses budidaya. Hal tersebut berdampak langsung pada produktivitas serta hasil panen yang diharapkan dapat menopang pendapatan BUMDes.
Masalah lain yang turut disorot adalah terbatasnya serapan pasar. Menurut Daud, pemasaran hasil peternakan BUMDes hingga kini belum berjalan optimal sehingga mempengaruhi perputaran usaha.
Ia menilai, jika pemerintah daerah dapat mendorong Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Sumba Barat Daya untuk menyerap ayam lokal dari BUMDes, maka perputaran ekonomi desa akan lebih cepat dan berdampak luas bagi daerah ini.
“Seandainya Pemda menekankan kepada kepada BGN agar SPPG yang ada di SBD harus membeli ayam di BUMDES, saya rasa perputaran uang di desa akan lebih cepat. Namun hingga saat ini, yang-ayam yang masuk ayam frozen dari Jawa,” kata Daud.
BUMDes Pada Eweta berharap adanya kebijakan yang lebih berpihak pada produk lokal desa, khususnya dalam memperkuat keberlanjutan usaha peternakan yang dikelola masyarakat serta memperluas akses pasar di tingkat daerah.***
- Penulis: Kobus Tena
- Editor: Kobus Tena








Saat ini belum ada komentar